Selamat Jalan, Kakei kun…

Malam itu ketika Narumi sedang bersendiri di sepertiga malamnya, dirasakannya ada sesosok pria jangkung berpeci hadir. Tidak bisa dilihatnya wajah pria itu karena dia membelakangi Narumi. Hingga Narumi tak menganggap itu sesuatu melainkan hanya bayangan pikirannya saja.

Dan ketika pagi, diterimanya kabar yang seperti petir menyambar, Kakei kun meninggal dunia….

Dengan mata nanar dibacanya barisan kalimat itu, mungkinkah salah? Tapi tidak, dan kabar itu sungguh benar.

Narumi langsung teringat chat terakhirnya dengan Kakei kun, 25 hari yang lalu. Tidak seperti biasanya Kakei kun menyapanya dan bercerita panjang tentang sejarah tanah Jawa dan para auliya. Ceritanya mengalir deras seolah ingin mengatakan begitu banyak hal dalam waktu yang terbatas. Dia hanya bercerita, bukan ingin bercakap-cakap. Dan chat itu pun berakhir menggantung seperti biasa, Kakei kun tidak pernah menutup chat dengan salam atau ucapan penutup. Narumi sudah paham itu.

Tapi yang tidak dipahami oleh Narumi bahwa itulah chat terakhirnya dengan Kakei kun. Seolah Kakei kun ingin mengucapkan selamat tinggal dan menitipkan pesan pada Narumi bahwa di dunia ini tidak ada yang kebetulan, semuanya terjadi dengan terencana dan terjaga, dan beruntunglah Narumi. Seolah Kakei kun mengatakan dia tak lagi bisa menjaga Narumi seperti yang pernah dia ucapkan, I’ll always be there for you.

Narumi tidak terlalu bersedih, toh ini bukan pertama kalinya Kakei kun meninggalkannya. Pernah dulu, bahkan tanpa sepatah kata perpisahan. Tapi kali ini Kakei kun pergi selamanya, tak akan ada lagi suaranya yang ceria bercerita tentang banyak hal, tentang buku-bukunya, tentang tokoh-tokoh yang menjadi inspirasi hidupnya. Tentang bahwa jodohnya seharusnya adalah Narumi.

Selamat jalan Kakei kun, suatu saat kita akan menonton the Ordinary People bersama, seperti janjiku padamu.

Rabu, 12 Desember 2020

Scarf

Pada suatu hari di tengah dinginnya subuh di pelataran masjid Nabawi, Madinah….

Sebuah scarf berkata pada seorang wanita, “Tahukah kamu berapa ratus ribu kilometer yang telah kutempuh, dari Manchester hingga ke kota ini?”

Wanita itu menggelengkan kepalanya sambil menatap si scarf yang ujung-ujungnya menjuntai di kedua sisi tangannya.

“Tahukah kamu, apa yang membawaku hingga ada disini sekarang?” kembali bertanya si scarf.

Kali ini wanita itu mencoba menjawab, ”Eeemm…pesawat Qatar dan Saudia?”

Scarf tersebut tertawa mendengar jawaban tersebut. “Itu kan hanya perantaranya” katanya sambil melambai tertiup angin dingin di subuh itu.

“Lalu apa yang membawamu hingga kemari?” Scarf tersebut tersenyum sambil memandang mata si wanita yang membulat karena rasa ingin tahunya.

“Cinta”

Scarf itu menghela nafas dalam. “Cintalah yang memperjalankanku ribuan kilometer. Seperti sebuah takdir, aku tak pernah tahu perjalanan apa yang akan kulakukan, sejauh mana dan sampai kepada siapa aku berakhir. Tapi aku yakin, bahwa cintalah yang menggerakkan semua itu. Jika itu kebencian, mungkin aku akan teronggok di tumpukan sampah di suatu tempat, bukan di sebuah tempat suci dan indah seperti ini”

Wanita itu terdiam mendengar ucapan si scarf, direnungkannya dalam-dalam arti perjalanan tersebut. Apa yang dialami si scarf adalah kurang lebih sama dengan apa yang dialaminya. Hanya cinta yang mampu menyampaikannya ke pelataran masjid yang indah ini. Cinta yang maha dahsyat yang menggerakkan seluruh alam semesta, dan wanita serta scarf itu hanyalah sebesar mikron yang berputar di dalamnya.

Akhirnya keduanya berjalan, tentu saja kaki si wanita yang berjalan sedang si scarf membalut leher wanita tersebut, memberi kehangatan di tengah dinginnya subuh.

Cintalah yang menyatukan mereka, dan itu memberi rasa damai dalam hati mereka….

 

Madinah, 18 November 2018

20181116_035412

Euphoria

Euphoria, menurut Wikipedia memiliki definisi sebagai berikut :

Euphoria ( /juːˈfɔːriə/ ( listen)) is the experience (or affect) of pleasure or excitement and intense feelings of well-being and happiness. Certain natural rewards and social activities, such as aerobic exercise, laughter, listening to or making music, and dancing, can induce a state of euphoria.

https://en.wikipedia.org/wiki/Euphoria

Artinya kurang lebih adalah sebuah rasa yang menyenangkan, kegairahan dan perasaan bahagia yang kuat. Beberapa aktifitas seperti aerobic, tertawa, mendengarkan atau bermain musik, menari bisa menghasilkan perasaan euphoria.

Saya gak akan membahas lebih detail tentang arti kata euphoria. Seperti yang terlihat dalam foto, euphoria ini digunakan sebagai salah satu nama parfum dari brand Calvin Klein. Oh, jadi mau membahas tentang parfum ya? Gak juga sih hahaha…geje ya saya 🙂

Begini lho, saya punya beberapa buah parfum dengan berbagai merk. Ada yang biasa saya pakai sehari-hari buat kerja, ada yang buat saat-saat tertentu. Ini karena parfum, menurut saya, bisa menimbulkan mood tersendiri tergantung wanginya. Saya punya parfum produknya Kenzo, yang jika dipake bisa bikin saya berasa seksi kayak Marilyn Monroe gitu. Ada yang wangi sporty sehingga seharian bisa semangat dan berenergi. Ada juga parfum yang seharian bisa bikin pengen ngikut pengajian aja, ini biasanya parfum dari arab oleh-oleh temen yang dateng umroh kwkwkw….

Ok lanjutt….

Nah, hari ini (Kamis, 11 October 2018) kenapa saya memilih euphoria? Saya berharap parfum ini akan membawa perasaan seperti definisinya diatas. I’m gonna meet someone. Seharusnya, seharusnya saya kudu merasa excited, seneng, atau apalah….karena ini seorang teman lama yang sudah bertahun-tahun gak ketemu. Tapi gak tau kenapa, perasaan saya kok flat….bener-bener flat, datar, gak ada rasa apapun. Oleh karena itu, saya memilih euphoria dengan harapan, parfum ini bisa memberi sedikit gairah akan pertemuan ini. Saya ya gak mau dong kalo saat ketemuan kelihatan wajah saya males-malesan, ekspresi saya datar kayak tembok china gitu, janganlah kan gak enak sama temennya ntar. Jadi saya semprotkan euphoria secukupnya, dan kebetulan ini adalah eau de parfum, yang wanginya lebih awet daripada eau de toilette. Kata si mbak-mbak SPG gitu sih, tapi kayaknya emang bener. Kenapa bisa begitu, katanya karena konsentrasi kepekatan sebuah parfum lebih besar sehingga daya awet wanginya lebih lama. Demikian sekilas info…

Ok truss….

Akhirnya pada tempat yang dijanjikan ketemulah saya dengan teman tersebut. Exciting?? Eee…gak juga. Ini saya mulai mikir, si parfum ini sekali ini gak kompak deh. Sama sekali gak ngefek gitu. Bahkan hingga akhir pertemuan saya gak merasa bahagia banget. Ihh, apa kurang banyak ya nyemprotinnya? Mungkin biar efeknya lebih berasa, harusnya saya bawa tadi sekalian sebotol parfum itu dan semprotin ke teman saya juga, dan kalo masih gak mempan, lemparin botolnya ke dia hahaha…I think that’ll work.

euphoria

 

 

The Committee – Session Two

Demi memperingati toggak bersejarah berdirinya Fase 389 ke 5 tahun di bulan September ini, maka saya bela-belain nulis lagi nih, padahal saya sudah vakum menulis sangaaaat lama. Kesibukan kerja plus dikejar-kejar petugas pajak sungguh mematikan daya kreatifitas menulis, dan saya pengsiun jadi blogger. Saya kubur dalam-dalam mimpi jadi penulis box office dan memperoleh Grammy Award, gak nyambung ya? Biarin deh 🙂

Bagaimana setelah lima tahun, apa kabar Para Panitia Fase?  Mari kita tengok sekarang, here we go….

Berikut nama-nama panitia yang terdaftar sebagai member The Committee :

  1. Safrina

Jabatan dia Grup Admin, merangkap Wakil Ketum, merangkap tukang parkir (bawa sempritan). Profesi asli dia sih Sales-nya Giant….gak elegan blass.

  • Dia sudah gak jadi admin dengan alasan sibuk kuliah, padahal aslinya sibuk bakulan sepatu. Juga sudah gak jadi Sales Giant karena gak ada yg mau beli dan dimarahin anggota Fase kalo share katalog promo di grup. Sudah jarang nongol di chat grup, alasannya sibuk kuliah S3. Tapi hanya dia dan Tuhan yang tahu, kapan kuliahnya kelar, perasaan udah 5 tahun ituuu….
  1. Eddy

Sang Ketum, yang selalu bertindak atas dasar suka sama suka..eh, atas dasar quorum, meski quorum-nya dia gak jelas juga berapa batasan orangnya. Serba gak jelas lah…

  • Sang mantan Ketum karena sudah digantikan oleh delegasi dari Arab Saudi, Donny Kartika. Kabarnya juga kabur tapi gak ada yg kangen kecuali si Firman, mantan pacarnya pas SMP.
  1. Fitri

Bu Sekretaris, tapi akhirnya berubah fungsi jadi Secret-stories, karena kata dia lebih baik mendengar rahasia orang daripada menulis memo rapat….

  • Setelah ganti profesi dari Buseks, Bubend, penyiar favorit Fase (kata dia sendiri), jabatan seumur hidup adalah Admin grup. Tapi kadang-kadang ngerangkep bantuin bikin kopi Gus Nanang, ustadz Fase yg cita-citanya nikah lagi sama artis…ini fitnah sih hihiii, gak usah di-amini. Motto dia adalah, “Jadi Admin Fase itu berat Dilan, kamu gak akan kuat. Biar aku saja.” Aneh kan, padahal Dilan bukan alumni Fase….
  1. Dwi Setyowati aka Watik

Bu Bendahara, hobby nongkrongin ATM, hobby ritual malam Jumat ngumbah keris (sampek karaten kerise diumbah terus), kemana-mana bawa buku primbon yang isinya transferan, ukuran kaos semua alumni….ukuran CD mereka juga, tapi yang ini disimpen sendiri ama Bu Bend, not for public sharing…

  • Masih jadi Bubend, bedanya sekarang gak punya keris lagi jadi gak bisa ritual. Barang siapa bersedia diruwat harap hubungi no berikut….Wat, no hp mu piro??
  1. Donny Kartika

Korwil Jember, si juragan coklat…semangat banget jadi panitia, mungkin karena dia berwajah arab kali yaa?…#opo hubungane?

  • Ketum Fase yg baru, sangat tamfan wal farokah karena sangat arab…wajahnya, mbuh kelakuannya wkwkwk.
  1. Beni Sutrisno

Korwil Jakarta, juragane Tacik Nurcahyani yang selalu minta dilayani pembantunya luar-dalam atas-bawah, dan sangat curiga atas aktifitas Busek yang kepo, hahahhaaa…*tuing-tuing…

  • Sudah left grup setengah abad yg lalu, informasi minim soalnya saya diblokir *salahku opooooo?? 😦
  1. Elvi Kurnia Hakim

Korwil Jawa Tengah, yang gak punya member, abis cuma dia doang sih yang kesasar hidup di Jateng…hihiiiii….

  • Sepertinya jenggotnya makin panjang, dan diehard fans-ya Cak Nun. Kayaknya bakal keracunan kalo minum kopi dari Gus Nanang #GakCocok
  1. Medhi

Ini dia panitia paling sakti, kalo ketawa bisa keluar segala macam hewan ternak, ayam, kambing, sapi, kuda, onta…wow, bener-bener luar biasa!

  • Alhamdulillah sejak jadi Wak Kaji, istiqomah di grup dengan mengucap salam tiap pagi dan mengibarkan bendera Palestina. Tapi bendera Palestina nya sudah distop karena disawat sandal sama Bu Admin karena ngebek-ngebeki Gallery fotonya Bu Admin.
  1. Burhan

Dia calon peserta Take Me Out, pernah patah hati akut jadi motto hidup dia adalah “Single is not Double”, ya iyalaahhh….#tepok jidat

  • Sudah SOLD, wkwkwkw. Left grup karena baper disindir Admin #gue iyaaa gueee….
  1. Kristin

Dia panitia yang kerjanya jadi psikolog, jadi berkumpul dengan panitia-panitia lain membuat dia merasa diantara klien-klien dia #gileh kabeh

  • Sepertinya Bu Psikolog kekurangan pasien di grup Fase, karena pasien akut – si Nasyit – sudah kabur dan jarang berobat lagi.
  1. Budi Hariyanto

Ini Budi, adiknya Wati, panitia yang rajin, suka menolong dan ringan tangan (ngaplokan)…eh gak kok, itu duluuuu…*musuhe busek pas sekolah

  • Ini juga jarang nongol, mungkin susah ya #nongolnya???
  1. Ami

Jenis kelaminnya pernah diragukan, cowok apa cewek, karena profile picture dia selalu cowok tentara gitu…

  • Ternyata dia perempuan asli, dan sekarang katanya ndaftar jadi Caleg. Wah lumayan nih kalo reuni bisa jadi sponsor kaos, tapi kaosnya ada gambar si Ami, coblossss….
  1. Ninis

Ini panitia terdaftar di The Committee, tapi ndak pernah komen…jadi no comment juga deh…#bingung.com

  • Dulu aja no komen apalagi sekarang…
  1. Ifa

Panitia yang rumahnya tetanggaan sama mantan, that’s the most important thing….hahaha….#gak tepak komene

  • Ini kesayangannya Blegoh Waluyo, hahaha…lhukk, sorry Fa, keprucutt.
  1. Viva

Ini dia nih, panitia paling steril dan innocent, gak bersalah, gak berdosa, suci dalam debu….sing liyane hadooh, njaluk diruwat kabeehh…

  • Sepertinya masih paling anteng, lanjutkan ya Va…2 periode hihiii (sampe reuni kedua maksudnya)
  1. Yoyok

Panitia merangkap jualan kurungan cinta dan tangga hati…jago desain, logo fase yang super keren itu hasil karya dia, sayang nek turu ngorok #buka aib dikit

  • Gak pernah nongol di WA tapi selalu menginthili Bu Admin di FB, terlaluuuu.
  1. Febry

Si juragan event organizer, dia yang handle bagian terbesar dari acara reuni…

  • Sekarang jadi pengusaha cafe yang sukses, jadi ntar kalo reuni jadi donatur ya Feb, aamiinn #dipalak aja

Dengan melihat mantan panitia yg sudah pada move on, sepertinya suatu perjuangan tersendiri untuk mewujudkan Reuni Session 2, 30th Fase 389.

Bagaimana menurut Anda?

The Bomber Children

Dua hari yang lalu terjadi ledakan bom di beberapa gereja di Surabaya, pelakunya adalah bapak ibu dan melibatkan anak-anak mereka bahkan yang masih berusia dibawah 10 tahun. Anak-anak!! Korbannya pun ada anak-anak, yang mungkin lagi seneng-senengnya bermain dan belajar naik sepeda.

Saya tidak akan menulis tentang agama, tentang paham radikal atau apa pun yang orang dewasa sering pikirkan. Orang dewasa kadang sangat bodoh. Sangat menjemukan. Terlalu banyak teori. Dan banyak lagi pikiran-pikiran mereka yang sesungguhnya membuat hidup mereka sendiri lebih ruwet. Saya akan menuliskan tentang anak-anak itu, yang karena kebodohan orang dewasa hingga harus mengakhiri masa kanak-kanak mereka yang membahagiakan dengan begitu singkatnya. Orang kebanyakan akan menilai kematian itu sebuah hal yang menyedihkan, tapi menurut saya, ada sisi membahagiakan disana. Bahagialah kalian anak-anak yang tidak perlu menjadi dewasa dan terjerat kebodohan seperti kami. Bahagialah kalian anak-anak yang mengisi dunia kalian dengan tawa riang tanpa beban, dan membawa tawa tersebut hingga ke alam kalian sekarang. Tertawalah. Teruslah tertawa. Dan bermainlah di taman-taman surga.

Anak-anak bagaikan kanvas putih, maka bebaskanlah ekspresi kalian tanpa batas untuk menciptakan keindahan, lukisan yang mungkin orang dewasa menilai itu coretan tanpa bentuk. Biar saja, orang dewasa memang bodoh dan tidak akan memahami karya seni kalian. Mereka terlalu terikat pada definisi, pada bentuk, pada kata, pada aturan dan akhirnya terjebak dalam dunia sempit mereka. Dunia mereka hitam putih. Dunia kalian penuh warna.

Saya yakin, kalian adalah jiwa-jiwa suci yang tak akan membawa setitik kebencian pun dalam hati kalian, jangan….jangan meniru kami orang dewasa yang penuh dengan benci dan amarah. Tetaplah menjadi kanvas putih dan lukislah hidup kalian sekarang, di alam sana, dengan tawa riang, dengan kepolosan pandangan mata kalian, dengan jemari mungil kalian. Kelak para malaikat akan menjemput kalian dan membimbing tangan mungil kalian, menuju-Nya. Saat di hadapan-Nya nanti, maafkanlah kami orang-orang dewasa bodoh ini. Orang-orang dewasa yang penuh benci dan amarah. Maafkan kami ya….

Every child is an artist. The problem is how to remain an artist once he grows up.” – Pablo Picasso

pexels-photo-356842.jpeg

The Power of Alhamdulillah

Sebulan belakangan ini saya mengalami nyeri otot pada panggul sebelah kanan, entah apa sebabnya. Karena otot panggul adalah termasuk persendian yang utama untuk berjalan dan bergerak, maka bisa dibayangkan setiap saya menggerakkan kaki nyeri itu terasa hingga ke lutut dan pinggang, wadaaww….rasanya bisa bikin meringis sambil pegangi boyok kayak nenek-nenek..#sakitnya tuh di bokoongg..hiks.

Karena saya termasuk orang yang gak suka sama dokter, eh maksudnya males ke dokter jadi rasa sakit itu saya biarkan aja. Saya sudah pernah kena plantar fasciitis di tumit kanan. Sewaktu saya bawa ke dokter ahli syaraf hanya diberi obat pemati rasa sakit, jadi begitu kerja obat hilang maka rasa nyerinya timbul lagi. Jadinya saya males kalo ntar kejadiannya sama kayak gitu. Lalu bagaimana akhirnya plantar fasciitis saya bisa sembuh total setelah tersiksa selama berbulan-bulan terpincang-pincang? Melalui sholat tahajjud. Bukannya saya melakukan tahajjud dengan niat menyembuhkan penyakit, tapi tanpa saya sadari hal itu menyembuhkan nyeri di tumit kanan saya, alhamdulillah.

Berbekal pengalaman tersebut, maka saya merasa gak perlu ke dokter. Tetapi ternyata nyerinya gak hilang-hilang, bahkan makin parah. Saya sedikit bertanya dalam hati, eh kok belum sembuh ya? Hehehee…nanyanya sama Tuhan itu. Gak sopan kan. Karena saya merasa telah berlaku gak sopan pada Tuhan, akhirnya pada hari Sabtu kemaren saat sholat tahajjud saya mohon ampun dan berdoa dalam sujud saya (sambil meringis karena bokong nyeri buanget), “Ya Allah, alhamdulillah telah Kau beri rasa sakit ini. Hamba tidak tahu apa tujuan-Mu, namun apa pun itu pastilah Kau memiliki maksud yang baik. Hamba ridho atas rasa nyeri ini”. Begitulah kira-kira doa saya saat itu.

Sabtu pagi saya tetap memaksa diri untuk ikut kelas yoga, meski tetap dengan wajah meringis kesakitan dan mengaduh-aduh. Guru yoga saya sampe tertawa dholim ngeliat saya kesakitan, beehhh. Selesai yoga, saya membeli makanan kucing dan berjalan memasuki toko sambil megangi pinggul kanan, tetap dengan wajah meringis manis #udah dari sononya manis sih yaa hehehe. Om yang jualan ngeliat raut kesakitan saya, dan memberi saya 2 buah salonpas. Sambil nyengir saya terima dan ngucapin terimakasih, si Om ini emang baik orangnya.

Sore hari kegiatan saya lanjutkan dengan ikut kelas zumba. Bentar bentar, kenapa sih saya ngotot ikut olahraga padahal lagi sakit gitu? Alasannya karena gak mau rugi, bayar fitness itu jutaan dan cicilannya aja masih bikin kartu kredit saya jerit-jerit. Yoga juga kalo gak dipake kena sistem hangus. Jadi daripada nyerinya pindah ke dompet, mending saya nekad ikutan dengan gerakan seadanya. Begitu loh sodara-sodara hehehe…

Pada hari Minggu saat lagi jalan-jalan, tiba-tiba saya menyadari bahwa rasa nyeri itu kok sudah hilang? Gak sedikitpun nyeri saat saya menggerakkan kaki saya. Alhamdulillah, ternyata sakitnya mendadak sembuh. Saya tidak berani mengatakan bahwa doa saya langsung diijabah oleh Allah swt karena siapalah saya ini, bukan siapa-siapa. Namun saya yakin bahwa rasa pasrah dan ridho atas pemberian-Nya, yang benar-benar tulus memang harus selalu kita lakukan, disamping usaha-usaha kita untuk keluar dari suatu permasalahan. Dalam hal ini, saya tetap melakukan exercise yang mungkin bisa membuat otot tersebut kembali ke jalan yang benar, eh…hahahaa.

Laa haula wala quwwata ila billah, alhamdulillah.

Love in the Dark – Adele

Take your eyes off me so I can leave
I’m far too ashamed to do it with you watching me
This is never ending
We have been here before
But I can’t stay this time
’cause I don’t love you anymore
Please stay where you are

Don’t come any closer
Don’t try to change my mind
I’m being cruel to be kind

I can’t love you in the dark
It feels like we’re oceans apart
There is so much space between us
Maybe we’re already defeated
Ahhh yeah yeah yeah
Yeah yeah yeah everything changing

You have given me something I can’t live without
You mustn’t underestimate that when you are in doubt
But I don’t want to carry on like everything is fine
The longer we ignore it all the more that we will fight
Please don’t fall apart
I can’t face your breaking heart
I’m trying to be brave
Stop asking me to stay

I can’t love you in the dark
It feels like we’re oceans apart
There is so much space between us
Maybe we’re already defeated
Ahhh yeah yeah yeah
Yeah yeah yeah everything changing

We’re not the only ones
I don’t regret a thing
Every word I’ve said
You know I’ll always mean
It is the world to me
That you are in my life
But I want to live
And not just survive

That’s why I can’t love you in the dark
It feels like we’re oceans apart
There is so much space between us
Maybe we’re already defeated
Ah-yeah-yeah-yeah-yeah-yeah-yeah everything changed me
I-I-I-I-I don’t think you can save me

 

Putus. Pisah. Cerai.

Tiga kata yang terdiri gak lebih dari lima huruf, tapi mungkin membutuhkan lebih dari lima tahun untuk sampai pada keputusan itu….

Saya jadi baper karena lagu ini, mungkin karena everything in this song made me so, atau ada unsur kesengajaan dari saya pribadi agar bisa mendapatkan mood’s booster buat nulis. Jadi tulisan kali ini bukan hanya mengenai arti lagu tersebut tapi juga mengandung curcol dan hasil curcolan orang lain juga, hiks…here we go

Bagian pertama lagu ini menggambarkan betapa sulitnya mengambil sebuah keputusan untuk berpisah. Gak tega gituh, apalagi kalo dia ngeliatin sambil memandang penuh cinta, meleleehh….Tapi gak bisa, gak bisa ini harus terus, karena bukan pertama kalinya hal seperti ini terjadi, tapi yang kemaren-kemaren gatot mulu. Kali ini udah mentok, I can’t stay this time. Itu tadi saya bilang diatas, gak gampang lho mau pisah itu, proses untuk menjadi sebuah keputusan yang bulet-lett itu bisa bertahun-tahun lamanya. Ada banyak faktor penyebab kenapa jadi berat berpisah antara lain; masih ada cinta (meski tinggal sekian persen), ketergantungan baik finansial atau non-finansial (udah biasa ada yang nganter kemana mana misalnya…ini pisah ama sopir, yaks?), anak-anak (jika punya), orang tua, kakak, adik, teteh, aa dll. *halahhh kayak iklan mobil….Terkadang kita harus jadi jahat dan mengambil peran antagonis untuk bisa mendapatkan akhir yang baik, gitu kata si Adele.

I can’t love you in the dark. Ini artinya bukan gak bisa mencintai pas mati lampu, beehh…Maksudnya, gak bisa mencintai (atau terus mencintai) dalam kondisi yang gak jelas, gak ada tujuan mau kemana hubungan ini. Kalaupun ada tujuan, tapi masing-masing tujuannya berbeda, plus cara mencapai tujuan itu juga beda banget, yang satu nyetirnya kalem yang satu ngebuutt sampai ngepot gitu. Nah jika yang satu ke Bandung naik Go-jek, yang satunya ke Surabaya naik delman istimewa kududuk dimuka, kan jadi gak nyambung jek….Udah kayak terpisah oleh lautan, so much space between us. Us?? Lo aja kaleee…kwkwkwk. Kadang daripada ngeyel, ngaku aja kalau kita udah kalah, dan gak bisa mempertahankan sebuah hubungan yang udah ancur dan gak tau arahnya kemana. Kita gak bisa berpura-pura everything is fine, karena semakin kita cuekin (seolah-olah masalah bisa selesai sendiri tanpa kita cari pemecahannya) maka akan semakin besar potensi kita bertengkar. Urusan kecil aja bisa bikin meledak kayak bom teroris.

Everything changed. Iya sih dulu cinta, sudah melalui banyak hal yang indah dalam kebersamaan. Namun dalam perjalanan hidup gak ada yang tetap, dan kita dituntut untuk menyesuaikan diri dengan semua hal tersebut. Kita punya harapan baru, target baru, tujuan yang lebih jauh dll. Jika ini kita tidak bisa capai bersama, lalu ngapain tetap bertahan? Just because something good has happened, they shouldn’t necessarily stay together. Jadi please gak usah berantakan gitu, be strong lah, kalau kamu mewek aku jadi gak kuat nihh….no lebay please. Banyak kok yang juga terpaksa pisah dan mendapatkan kehidupan baru dan pengalaman baru. Jadi gak ada yang perlu disesali dalam hidup ini. Ntar juga kamu bakal dapetin ganti yang baru kok #mudah-mudahan yang cakepnya gak ngelebihin saya, aamiinn…hihihii

 Kalimat favorit saya dalam lagu ini adalah “but I want to live, and not just survive”. It’s really meaningful. It’s about how to live a world or our life. Kita gak cukup hanya semata-mata bertahan untuk bisa survive. Ngepress banget itu sih, kita butuh lebih daripada itu. Kita butuh meraih harapan dengan mengerahkan segenap kemampuan terbaik kita. Jika memang harus move on, ya we have to move on somewhere else or with someone new. Ada harapan baru diluar sana, dan sorry lue gue ends. Tittt.

Hello?

 Eh, kan udah tittt!

 Ok, tittt…

 Iya, tittt. Beneran, ini tittt. Tittt!!

 

 Note : Tadinya saya mau menuliskan ini dengan lebih dramatis koreantis gitu, bercucuran air mata lah, namanya juga tentang perpisahan. Tapi gak bisa. Maaf ya, Adele.

 

Kinda Promotion…

tahukah lagu yang kau suka?

tahukah buku yang kau baca?

tahukah rumah yang kau tuju?

…………

itu aku

………..

percayalah itu aku

 

September 6, 2016

Otak vs Hati : Mana yang Diikuti?

brain-and-heart-fight

Ilustrasi diatas agak menohok saya nih :/. Adalah otak yang berkata pada hati, “kamu gak pernah belajar kan…”. Sebetulnya saya termasuk orang yang lebih sering menggunakan otak (logika) daripada menuruti kata hati semata. Namun ada saat-saat dimana saya berkata what the hell to my brain, and just follow my heart. Kemudian pada akhirnya, hati saya jadi babak belur hahahaa…

Pertanyaan yang lalu muncul adalah, manakah yang harus diikuti, otak atau hati? Berikut saya akan mencoba mengulasnya secara singkat, karena ini juga nulisnya di sela-sela jam kerja euy…gak sempaattt…

Pria vs Wanita : Logika vs Perasaan

Pria dan wanita memang sejatinya diciptakan berbeda, dan dikatakan jika pria lebih memakai otak dibandingkan wanita yang menggunakan hati. Menurut Dr Louann Brizendine, dalam “Women’s and TeenGirls’ Mood and Hormone Clinic”, perbedaan tersebut pada dasarnya karena otak wanita terstruktur oleh dominasi hormon estrogen, sedangkan otak pria didominasi oleh hormon testosterone, sehingga ditemukan perbedaan respon dalam satu aktivitas yang sama. Menurut saya sih kebanyakan iya, tapi selalu ada perkecualian. Ada kok cowok yang mellow-mellow, lebay dan gak mikir banget gitu, bikin kesel aja, ngerepoti banget deh #loh jadi curcol hihihiii…

Jika dikaitkan dengan ilustrasi tadi, sungguh saya sangat bangga dengan diri saya yang – seringnya – menempatkan logika diatas hati. Buat saya segala sesuatu harus dihitung untung ruginya. Jika perlu saya akan membuat list up kelebihan dan kekurangan segala sesuatu dengan detail, sehingga keputusan yang saya ambil gak akan salah. Meminimalisir resiko, menyiapkan Plan B, Plan C dan seterusnya. Mencari alternative jalan, bahkan jika perlu sedikit tricky. Hati masukin ke kulkas dulu yaa, gak diundang di saat-saat meeting beginian 🙂 Begitulah, saya adalah perkecualian dalam hal ini. Saya pake otak.

Al Qolbu = Hati

Beberapa tahun yang lalu saya pernah re-post suatu artikel dengan judul “Al-Qolbu dalam Pandangan Sufisme”. Isinya adalah sebuah Hadits Qudsi yang berbunyi :

“Ketahuilah, di dalam jazad ada al-mudzghah, di dalam al-mudzghah ada Al-Qalbu, di dalam Al-Qalbu ada Fuad, di dalam Fuad ada Ruh, di dalam Ruh ada Sirr, di dalam Sirr ada Akfa, di dalam Akfa ada Aku (Inna fii al-jazad al-mudzghah, wa fii mudzghah al-qalb, wa fii al-qalb fuad, wa fii fuad ar-ruuh, wa fii ruuh sirr, wa fii sirr akfa, wa fii akfa ana)”

Tafsir dari Hadits  Bukhari & Muslim dari Nu’man bin Basyir menyatakan jika hati seseorang baik maka baiklah seluruh jasadnya, dan jika dia  jelek maka jeleklah seluruh jasadnya. Ketahuilah dia itu adalah Qalb. Pada saat itu saya belum memahami apa artinya, atau lebih tepatnya belum “merasakan”.  Hal ini karena saat itu saya belum belajar tentang tasawuf dan menjalani thoriqoh. Setelah perjalanan mencari saya sekian lama, baru saya memahami apa artinya. Ternyata bahwa hati itu lebih penting daripada otak. Ikutilah hatimu, maka Insya Allah dia akan membawamu ke jalan yang benar. Tapiiiii….hati disini adalah hati yang sudah bersih dari segala macam penyakit seperti sombong, riya’, ujub, khibir, dan lain-lain.  Ibarat sebuah gelas yang kotor, jika diisi air yang jernih pun maka akan tampak air itu kotor. Demikianlah hati manusia, cahaya illahi tidak akan bisa bersinar dari dalam hati yang masih penuh dengan penyakit dan kotoran. Padahal disebutkan dalam hadits qudsi diatas, sesungguhnya di dalam hati itulah adanya kehadiran Sang Maha Kuasa, yang akan menuntun jalan kita, menggerakkan hati dan menunjukkan mana yang benar dan salah. Bukan pada otak. Kebenaran yang ada dalam pikiran kita adalah kebenaran versi makhluk, seringkali malah pembenaran, bukan kebenaran. Otak kita mencari hal-hal yang menurut kita benar atas dasar keinginan kita, bukan hakikat kebenaran dari Allah swt. Oleh karena inilah, sekarang saya katakan bahwa saya lebih memakai hati saya daripada otak saya, bahkan jika pun apa yang dikatakan hati itu kadang bertentangan dengan logika.

Saya akan berikan suatu contoh berdasarkan apa yang saya alami belakangan ini. Rencananya akhir pekan ini saya ingin sowan ke guru mursyid saya di Pekalongan. Saya seharusnya sudah pesan tiket kereta api dan reservasi kamar hotel sejak minggu kemarin jika ingin aman. Namun hati saya mengatakan untuk menunggu hingga ada kepastian dari teman saya bahwa guru saya ada di tempat, sehingga perjalanan jauh ini gak sia-sia. Hingga H-3 baru teman saya mengabarkan jika beliau ada acara di kota lain. Lebih baik saya datang awal bulan Juni saja, katanya. Dan kalian tahu kenapa terjadi penundaan ini padahal saya sudah rencanakan jauh-jauh hari? Allah swt belum ridho, karena ternyata suami diam-diam gak setuju dengan rencana saya, dia juga pengen ngajak saya mudik untuk sowan ke mertua di desa. Hmmmm….

Begitulah kura-kura….

 

Tak Mampu Mendua

Mendua aku tak mampu

Mengikat cinta bersama denganmu

Maaf jika kau terluka

Saat aku memilih dirinya

                    (Kahitna – Tak Mampu Mendua)

 

Sekali lagi Kahitna 🙂

Lagu ini aslinya berkisah tentang si Yovie, atau Heidi Yunus…whoever, yang ditinggal gebetannya karena tidak mau meningkatkan status si gebetan menjadi terdaftar (red : di KUA). Gak mampu mendua katanya, idiihh…bukannya sudah ya? Membagi cinta untuk dua orang. Jika membagi gaji untuk dua istri, nah itu beda lagi judulnya, itu sih poligami :/

Cinta dan komitmen memang selalu berdampingan, meski tak selalu sejalan. Ibarat keduanya sama-sama mengarah ke barat namun yang satunya jalan biasa sementara yang satunya jalan tol. Seperti yang sudah pernah saya tuliskan tentang Cinta Tak Harus Memiliki, walaupun ternyata banyak juga yang memilih sebaliknya. Saya sendiri, at this point, sudah mencapai definisi cinta yang lain, sehingga kontroversi memiliki atau tidak memiliki sudah tidak menjadi pikiran saya, huehuehuee….

Saya bisa memahami betapa susahnya mendua itu, tapi urusan hati terkadang susah diatur, mana bisa menghentikan cinta yang datang menyapa? Sehingga ada jargon Cinta Tak Pernah Salah, yang sering digunakan sebagai senjata (alasan pembenaran) di dunia persilatan eh percintaan. Dan katanya, hati itu seluas samudra, sehingga bisa menampung cinta sebanyak-banyaknya. Tentu, terlepas dari resiko dan konsekuensi masing-masing. Itulah pemahaman saya tentang cinta, hingga setahun yang lalu.

Lalu tiba-tiba saya mengalami jatuh cinta (lagi). Cinta yang membuat airmata tertumpah. Cinta yang timbul karena menyadari betapa besar cinta yang telah saya terima, dan tidak akan pernah bisa saya balas sepantasnya. Cinta yang selalu memaafkan. Cinta yang menerima saya apa adanya. Cinta yang selalu memberikan yang terbaik tanpa pernah saya minta. Cinta yang tidak menuntut apapun dari saya. Cinta yang selalu merindukan kehadiran saya meski saya sering melupakannya.

Menyadari saya telah dicintai sedemikian rupa, bagaimana saya bisa menduakan cinta ini? Bagaimana jika saya kehilangan segala yang telah saya dapatkan, kehilangan pemberian, perhatian, kasih sayang berlimpah-limpah itu? Sungguh, saya tak mampu mendua.

Dan mengalunlah lagu Kahitna dengan definisi cinta yang lain….

Maaf jika kau terluka, saat aku memilih diri-NYA

Syekh Abdul Qodir Al-Jaelani mengatakan, manusia diciptakan hanya memiliki satu hati. Tidak bisa hati ini diisi dengan cinta kepada makhluk dan cinta kepada-Nya. Tak akan pernah cukup luas hati untuk menduakan cinta pada Sang Pemilik Hati, meski dikatakan hati kita seluas samudra. Salah satu harus menyingkir. Bohong jika ada yang berkata mereka bisa menduakan cinta semacam itu.

Cinta-Nya yang Maha Agung, jika kita masih memiliki cinta lain di hati, maka Dia akan sabar menanti kembalinya kita. Dia akan selalu mengawasi kita dengan was-was dan cemas apakah hingga akhir usia kita akan sampai pada-Nya. Ahhh, bagaimana saya bisa menduakan cinta ini? Semoga kamu bisa memahami.

 

“…andai aku dapat menata jalanku

‘kan kucari jalan yang tak bernestapa….”

jalanku

jalan yang tak bernestapa….