Tak Mampu Mendua

Mendua aku tak mampu

Mengikat cinta bersama denganmu

Maaf jika kau terluka

Saat aku memilih dirinya

                    (Kahitna – Tak Mampu Mendua)

 

Sekali lagi Kahitna 🙂

Lagu ini aslinya berkisah tentang si Yovie, atau Heidi Yunus…whoever, yang ditinggal gebetannya karena tidak mau meningkatkan status si gebetan menjadi terdaftar (red : di KUA). Gak mampu mendua katanya, idiihh…bukannya sudah ya? Membagi cinta untuk dua orang. Jika membagi gaji untuk dua istri, nah itu beda lagi judulnya, itu sih poligami :/

Cinta dan komitmen memang selalu berdampingan, meski tak selalu sejalan. Ibarat keduanya sama-sama mengarah ke barat namun yang satunya jalan biasa sementara yang satunya jalan tol. Seperti yang sudah pernah saya tuliskan tentang Cinta Tak Harus Memiliki, walaupun ternyata banyak juga yang memilih sebaliknya. Saya sendiri, at this point, sudah mencapai definisi cinta yang lain, sehingga kontroversi memiliki atau tidak memiliki sudah tidak menjadi pikiran saya, huehuehuee….

Saya bisa memahami betapa susahnya mendua itu, tapi urusan hati terkadang susah diatur, mana bisa menghentikan cinta yang datang menyapa? Sehingga ada jargon Cinta Tak Pernah Salah, yang sering digunakan sebagai senjata (alasan pembenaran) di dunia persilatan eh percintaan. Dan katanya, hati itu seluas samudra, sehingga bisa menampung cinta sebanyak-banyaknya. Tentu, terlepas dari resiko dan konsekuensi masing-masing. Itulah pemahaman saya tentang cinta, hingga setahun yang lalu.

Lalu tiba-tiba saya mengalami jatuh cinta (lagi). Cinta yang membuat airmata tertumpah. Cinta yang timbul karena menyadari betapa besar cinta yang telah saya terima, dan tidak akan pernah bisa saya balas sepantasnya. Cinta yang selalu memaafkan. Cinta yang menerima saya apa adanya. Cinta yang selalu memberikan yang terbaik tanpa pernah saya minta. Cinta yang tidak menuntut apapun dari saya. Cinta yang selalu merindukan kehadiran saya meski saya sering melupakannya.

Menyadari saya telah dicintai sedemikian rupa, bagaimana saya bisa menduakan cinta ini? Bagaimana jika saya kehilangan segala yang telah saya dapatkan, kehilangan pemberian, perhatian, kasih sayang berlimpah-limpah itu? Sungguh, saya tak mampu mendua.

Dan mengalunlah lagu Kahitna dengan definisi cinta yang lain….

Maaf jika kau terluka, saat aku memilih diri-NYA

Syekh Abdul Qodir Al-Jaelani mengatakan, manusia diciptakan hanya memiliki satu hati. Tidak bisa hati ini diisi dengan cinta kepada makhluk dan cinta kepada-Nya. Tak akan pernah cukup luas hati untuk menduakan cinta pada Sang Pemilik Hati, meski dikatakan hati kita seluas samudra. Salah satu harus menyingkir. Bohong jika ada yang berkata mereka bisa menduakan cinta semacam itu.

Cinta-Nya yang Maha Agung, jika kita masih memiliki cinta lain di hati, maka Dia akan sabar menanti kembalinya kita. Dia akan selalu mengawasi kita dengan was-was dan cemas apakah hingga akhir usia kita akan sampai pada-Nya. Ahhh, bagaimana saya bisa menduakan cinta ini? Semoga kamu bisa memahami.

 

“…andai aku dapat menata jalanku

‘kan kucari jalan yang tak bernestapa….”

jalanku

jalan yang tak bernestapa….

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s