Otak vs Hati : Mana yang Diikuti?

brain-and-heart-fight

Ilustrasi diatas agak menohok saya nih :/. Adalah otak yang berkata pada hati, “kamu gak pernah belajar kan…”. Sebetulnya saya termasuk orang yang lebih sering menggunakan otak (logika) daripada menuruti kata hati semata. Namun ada saat-saat dimana saya berkata what the hell to my brain, and just follow my heart. Kemudian pada akhirnya, hati saya jadi babak belur hahahaa…

Pertanyaan yang lalu muncul adalah, manakah yang harus diikuti, otak atau hati? Berikut saya akan mencoba mengulasnya secara singkat, karena ini juga nulisnya di sela-sela jam kerja euy…gak sempaattt…

Pria vs Wanita : Logika vs Perasaan

Pria dan wanita memang sejatinya diciptakan berbeda, dan dikatakan jika pria lebih memakai otak dibandingkan wanita yang menggunakan hati. Menurut Dr Louann Brizendine, dalam “Women’s and TeenGirls’ Mood and Hormone Clinic”, perbedaan tersebut pada dasarnya karena otak wanita terstruktur oleh dominasi hormon estrogen, sedangkan otak pria didominasi oleh hormon testosterone, sehingga ditemukan perbedaan respon dalam satu aktivitas yang sama. Menurut saya sih kebanyakan iya, tapi selalu ada perkecualian. Ada kok cowok yang mellow-mellow, lebay dan gak mikir banget gitu, bikin kesel aja, ngerepoti banget deh #loh jadi curcol hihihiii…

Jika dikaitkan dengan ilustrasi tadi, sungguh saya sangat bangga dengan diri saya yang – seringnya – menempatkan logika diatas hati. Buat saya segala sesuatu harus dihitung untung ruginya. Jika perlu saya akan membuat list up kelebihan dan kekurangan segala sesuatu dengan detail, sehingga keputusan yang saya ambil gak akan salah. Meminimalisir resiko, menyiapkan Plan B, Plan C dan seterusnya. Mencari alternative jalan, bahkan jika perlu sedikit tricky. Hati masukin ke kulkas dulu yaa, gak diundang di saat-saat meeting beginian 🙂 Begitulah, saya adalah perkecualian dalam hal ini. Saya pake otak.

Al Qolbu = Hati

Beberapa tahun yang lalu saya pernah re-post suatu artikel dengan judul “Al-Qolbu dalam Pandangan Sufisme”. Isinya adalah sebuah Hadits Qudsi yang berbunyi :

“Ketahuilah, di dalam jazad ada al-mudzghah, di dalam al-mudzghah ada Al-Qalbu, di dalam Al-Qalbu ada Fuad, di dalam Fuad ada Ruh, di dalam Ruh ada Sirr, di dalam Sirr ada Akfa, di dalam Akfa ada Aku (Inna fii al-jazad al-mudzghah, wa fii mudzghah al-qalb, wa fii al-qalb fuad, wa fii fuad ar-ruuh, wa fii ruuh sirr, wa fii sirr akfa, wa fii akfa ana)”

Tafsir dari Hadits  Bukhari & Muslim dari Nu’man bin Basyir menyatakan jika hati seseorang baik maka baiklah seluruh jasadnya, dan jika dia  jelek maka jeleklah seluruh jasadnya. Ketahuilah dia itu adalah Qalb. Pada saat itu saya belum memahami apa artinya, atau lebih tepatnya belum “merasakan”.  Hal ini karena saat itu saya belum belajar tentang tasawuf dan menjalani thoriqoh. Setelah perjalanan mencari saya sekian lama, baru saya memahami apa artinya. Ternyata bahwa hati itu lebih penting daripada otak. Ikutilah hatimu, maka Insya Allah dia akan membawamu ke jalan yang benar. Tapiiiii….hati disini adalah hati yang sudah bersih dari segala macam penyakit seperti sombong, riya’, ujub, khibir, dan lain-lain.  Ibarat sebuah gelas yang kotor, jika diisi air yang jernih pun maka akan tampak air itu kotor. Demikianlah hati manusia, cahaya illahi tidak akan bisa bersinar dari dalam hati yang masih penuh dengan penyakit dan kotoran. Padahal disebutkan dalam hadits qudsi diatas, sesungguhnya di dalam hati itulah adanya kehadiran Sang Maha Kuasa, yang akan menuntun jalan kita, menggerakkan hati dan menunjukkan mana yang benar dan salah. Bukan pada otak. Kebenaran yang ada dalam pikiran kita adalah kebenaran versi makhluk, seringkali malah pembenaran, bukan kebenaran. Otak kita mencari hal-hal yang menurut kita benar atas dasar keinginan kita, bukan hakikat kebenaran dari Allah swt. Oleh karena inilah, sekarang saya katakan bahwa saya lebih memakai hati saya daripada otak saya, bahkan jika pun apa yang dikatakan hati itu kadang bertentangan dengan logika.

Saya akan berikan suatu contoh berdasarkan apa yang saya alami belakangan ini. Rencananya akhir pekan ini saya ingin sowan ke guru mursyid saya di Pekalongan. Saya seharusnya sudah pesan tiket kereta api dan reservasi kamar hotel sejak minggu kemarin jika ingin aman. Namun hati saya mengatakan untuk menunggu hingga ada kepastian dari teman saya bahwa guru saya ada di tempat, sehingga perjalanan jauh ini gak sia-sia. Hingga H-3 baru teman saya mengabarkan jika beliau ada acara di kota lain. Lebih baik saya datang awal bulan Juni saja, katanya. Dan kalian tahu kenapa terjadi penundaan ini padahal saya sudah rencanakan jauh-jauh hari? Allah swt belum ridho, karena ternyata suami diam-diam gak setuju dengan rencana saya, dia juga pengen ngajak saya mudik untuk sowan ke mertua di desa. Hmmmm….

Begitulah kura-kura….

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s