Kesurupan

Sebelum menulis tentang kesurupan, pertama-tama yang saya lakukan adalah kesarapan, eh sarapan dulu biar gak laper 😀 Ini kisah yang agak horror dan lumayan panjang, jadi harus dipastikan saya memiliki cukup energi untuk menuliskannya dan gak pingsan di tengah-tengah penulisan #lebay euy

Kesurupan disebabkan adanya makhluk ghaib yang masuk ke manusia, dengan berbagai alasan antara lain karena iseng, marah, atau faktor kesengajaan (memang diundang atau disuruh orang lain). Banyak orang mengira bahwa kesurupan identik dengan hilangnya kesadaran si penderita, lalu jejeritan atau bersuara aneh yang bukan suara dia sendiri. Pada saat sedang kesurupan, penderita sama sekali tidak bisa menguasai dirinya, dan begitu sadar dia juga tidak bisa mengingat atau mengetahui dengan pasti apa yang telah terjadi padanya. Memang sih kebanyakan begitu kejadiannya, tapi ternyata gak semua orang kesurupan bakal jerit-jerit gak karuan, mungkin tergantung jenis jin yang merasuki kali ya. Ada kok yang justru perilakunya jadi banyak senyum, ternyata dia kesurupan jin cinta *halahhh

Sebetulnya kisah ini agak menjatuhkan image saya sih, masak cantik-cantik kok pernah kesurupan. Hah??!! Iya, saya emang pernah kesurupan. Kejadiannya saat saya masih kelas 2 SD dan tinggal di Sampit, Kal-Teng. Dan tidak seperti korban kesurupan lainnya yang tidak bisa ingat dengan jelas, saya justru sangat menyadari apa yang terjadi pada saya saat itu. Saya sepenuhnya sadar dan ingat, makanya sekarang saya bisa menuliskan kisah ini, dan ini bukan khayalan. Ya iyalah daripada menghayal kesurupan kan mending juga saya menghayal berduaan sama Nicolas Saputra 😀 So, here we go….

Sore hari, sekitar jam 16.00 – 17.00

Saat itu saya sedang bermain di tepian hutan kecil dekat rumah saya dengan anak tetangga. Teman saya tadi lalu memberi saya sebatang tebu, saya lupa dia dapat dari mana, boleh nyabut dari kebun orang atau ngambil dari truk tebu yang lewat. Singkatnya, kami makan tebu tersebut sambil bermain-main. Tiba-tiba saya merasa ada hal yang aneh dengan lidah saya, rasanya menebal, kaku dan saya jadi cadel kalo ngomong. Buru-buru saya pulang dan bilang ke bapak dan ibu saya.

“Pa’, ‘ok lidah ‘u ‘adi ‘ini?”

“Ah kamu jangan bercanda”, bapak saya ngeliatin saya yang dikiranya lagi iseng.

“Iya Pa’, ‘ini ‘adi gapapa lus ‘ok adi ‘ini”, rasanya cadelnya tambah parah nih.

Bapak saya meraba dahi saya, tapi suhu badan saya normal aja, “Ayo kita ke dokter, jangan-jangan kamu salah minum obat dari dokternya kemarin”.

Beberapa hari yang lalu saya memang habis dari dokter karena sakit panas, bapak saya mengira ini efek obat yang saya minum atau mungkin keracunan obat. Jadilah kami langsung berangkat ke dokter naik sepeda motor, saya, bapak dan ibu saya. Tidak lupa ibu saya membawa obat yang masih tersisa, buat ditunjukin ke dokternya nanti.

Di praktek dokter, sekitar jam 17.30 – 19.00

Di praktek dokter yang juga sekaligus rumahnya, sudah banyak pasien yang antri, tapi bapak saya bilang ke perawat yang jaga untuk masuk duluan karena penting. Akhirnya kami diperkenankan masuk ke kamar periksa sang dokter. Saya berbaring di kasur dan diperiksa, sementara bapak saya menjelaskan apa yang terjadi dengan saya.

“Coba dik bicara”, pak dokter memeriksa mulut dan lidah saya.

“”Aaa…’uuuu…’uuu ‘aaaa”, ternyata kecadelan ini udah parah banget sampai saya gak bisa ngomong lagi, jadi cuma bisa aa uu aa uu kayak orang gagu.

Karena pak dokter tidak menemukan apa pun yang salah kecuali kecadelan saya, kami akhirnya disuruh masuk ke rumahnya dan saya diberi obat entah apa buat diminum. Di dalam kami ditemani istri pak dokter yang dengan ramah mempersilakan kami duduk di sofa dan menyuguhkan minuman. Tiba-tiba saya merasa ngantuk, mungkin karena obat tadi, dan akhirnya tertidur di kursi sofa.

Beberapa saat kemudian saya dibangunkan oleh bapak saya.

“Gimana kamu udah bisa ngomong?”

“Eeee…udah Pak, lidahnya udah gak papa”, wahh saya sembuh!

“Ya udah ayo pulang kalo gitu”, kata bapak saya sambil mau pamitan ke pak dokter untuk mengucapkan terimakasih.

Memang sih saya sudah gak cadel lagi, tapi kali ini ada dorongan yang membuat saya jadi menjulurkan lidah keluar alias melet. Saya berusaha menahan supaya gak melet dengan mengatupkan mulut kencang-kencang, tapi susaahhh banget. Bapak dan ibu saya jadi bingung lagi. Pak dokter yang melihat kondisi saya segera bisik-bisik ke bapak saya. Beliau lalu meminjamkan sebuah sendok untuk saya gigit, karena takutnya lidah saya yang menjulur keluar itu tergigit putus. Akhirnya kami segera pulang, kali ini saya naik angkot dengan ibu karena takut kenapa-kenapa kalo naik sepeda motor. Jadilah saya duduk di depan sambil menggigit sendok *hiiiihhh aneh bangeett kan saya 😦  Selama perjalanan saya berusaha menahan supaya lidah ini gak melet, karena jika melet maka mulut dan pangkal lidah jadi capek. Coba deh kalian melet sekuatnya, gak sampai lima menit pasti udah gak kuat kan? Jadi bisa kalian bayangkan penderitaan saya saat itu.

Di rumah, sekitar jam 19.30 – 22.00

Saat saya datang, sudah ada beberapa orang pria di ruang tamu. Mungkin bapak saya tadi sempat mampir untuk mengundang mereka, yang keliatannya adalah ‘orang pintar’ buat menyembuhkan saya. Saya sih langsung masuk ke kamar karena capek di leher yang kaku gara-gara melet terus. Sambil membaringkan diri di kasur, saya sering minta minum ke orang-orang yang entah darimana semakin banyak, mungkin para tetangga yang menjenguk. Kondisi saya tetap menggigit sendok, tapi jika dorongan melet itu tak tertahankan, saya lepas sendoknya dan menjulurkan lidah sekuatnya, but that’s really out of my control. Beberapa orang pintar tadi mulai memeriksa saya, dan memberikan air putih yang sudah didoain buat saya minum. Ada juga yang ngasih air dikasih gula merah jadi rasanya lumayan enak, kalo yang enak gitu saya minta nambah minumnya 😀

Tapi bukannya jadi mendingan, kondisi saya makin parah. Kali ini saya tidak bisa mengontrol kepala saya, seolah ada yang menjambak saya dari belakang sehingga saya harus sekuat tenaga menahan tarikan tersebut. Saya berusaha melawan dengan meletakkan kepala saya di kasur dengan posisi tengkurep kepala di bawah, jadi berlawanan dengan tarikan ke belakang itu. Kadang tarikan itu mereda hingga saya bisa istirahat berbaring dengan posisi tidur normal. Tapi beberapa saat kemudian dijambakin lagi dan saya harus tengkurep nungging-nungging lagi. Begitu terus selama beberapa jam yang melelahkan itu. Sudah tidak terhitung berapa banyak orang pintar yang masuk ke kamar berusaha mengobati. Dan saya kesel banget kalo mereka nyemburin air putih ke muka saya sambil komat-kamit. Sialan, sampai basah kuyup disembur para dukun itu, bauk tauk 😦 Tapi gak ada yang bisa nyembuhin saya, ini hebat juga jin yang yang ngisengin saya. Tapi yang jelas, kesadaran saya gak hilang dan saya gak jerit-jerit. Saya cuma merasa digerakkan suatu kekuatan yang menyiksa saya, tapi saya terus berusaha melawan kok. Kata kakak saya, kondisi saya saat itu lumayan menyeramkan dengan leher yang kelihatan panjang karena ketarik ke belakang, mata mendelik ke langit-langit dan lidah yang menjulur keluar, hiiiiiiii…..plus basah kuyup karena semburan dukun dan keringat membanjir kayak orang habis yoga, iya kan saya lagi fight ama tuh jin ceritanya, pantes aja keringetan.

Pamungkas, menjelang tengah malam…

Rasanya tenaga saya sudah habis berusaha fight melawan kekuatan ghaib itu. Disaat itu datanglah sodara saya sambil membawa sebotol air putih dan sebuah daun yang panjang kayak daun pandan. Dia berbisik ke bapak saya bahwa si orang pinter yang satu ini gak mau datang langsung ke rumah, karena gak enak sama kolega sesama para dukun yang udah datang di rumah kami. Lalu bapak saya diajarin apa yang harus dilakukan dan doa yang harus dibaca. Air itu diminumkan ke saya dan daunnya diletakkan dibawah bantal. Kali ini sangat manjur, setelah minum air tersebut dorongan ghaib itu sedikit demi sedikit berkurang dan gak njambak-njambak saya lagi, sampai akhirnya hilang. Saya yang kelelahan akhirnya bisa tertidur, dan ketika terbangun saya disuruh minum lagi, lalu tidur lagi sampai pagi.

Keesokan paginya….

Bangun tidur paginya saya dikasih minum air tersebut sampai habis isi sebotol itu. Wah, ini beneran orang pinter yang rendah hati, gak mau sok kalo ilmunya lebih tinggi daripada yang lain. Katanya orang itu tinggal di sebelah kuburan…huaaaaa :/ Dia emang terkenal tapi sangat sederhana orangnya. Kata orang itu, kondisi saya semalam bisa membahayakan jiwa karena leher bisa patah kalo tidak segera ditangani. Aduuh, terimakasih ya Allah, dan bapak yang telah membantu saya, kalo gak mana bisa saya jadi blogger kepo kayak sekarang 😀

Demikian pembaca, salah satu pengalaman gak elegan saya. Semoga tidak pernah menimpa kalian, so watch out your back!!!

Kegunaan Pohon Pepaya

Apakah kalian tahu kegunaan pohon pepaya, selain dia bisa menghasilkan buah pepaya dan daunnya enak buat dimakan?

Buat yang belum tahu, maka inilah salah satu kegunaan pohon pepaya, yaitu untuk penangkal santet. Jika membaca dari beberapa referensi tulisan tentang khasiat tumbuhan berkaitan dengan ilmu ghaib / santet, ada beberapa tumbuhan yang diyakini bisa menangkal hal tersebut, antara lain pohon kelor, palem merah, kenanga dan bambu kuning. Pohon pepaya sendiri lebih banyak ditulis sebagai pohon pembawa sial sehingga lebih baik tidak ditanam di halaman rumah. Namun ada beberapa referensi yang menyebutkan pohon pepaya juga bisa menangkal santet, lebih tepatnya yang jenisnya adalah pepaya gantung wulung. Ciri-cirinya buah dan tangkainya berwarna ungu, dan buahnya menggantung jauh di bawah (http://candikota.blogspot.com/2012/07/2-jenis-tanaman-penangkal-santet.html). Juga disebutkan di wikipedia : http://id.wikipedia.org/wiki/Santet

Pepaya Wulung, pohon sakti penangkal santet...

Pepaya Wulung, pohon sakti penangkal santet…

Ilmu santet sendiri adalah ilmu ghaib yang mempelajari bagaimana memasukkan benda atau sesuatu ke tubuh orang lain dengan tujuan menyakiti orang tersebut. Mungkin kalo di Sekolah Sihir Hogwart efek yang ditimbulkan kurang lebih sama dengan kutukan Cruciatus 😀 Bedanya, kutukan Cruciatus itu tanpa memerlukan benda yang dimasukkan ke tubuh, dan 100% itu fantasinya JK Rowling. Sedangkan ilmu santet ini asli nyata, dan saya akan ceritakan di judul yang lain pengalaman saya berkaitan dengan santet ini.

Kembali ke pohon papaya, boleh percaya atau tidak tentang khasiatnya sebagai penangkal santet. Tapi apa yang saya ceritakan adalah pengalaman pribadi saya, bukan denger atau copas dari manapun. Ceritanya begini….

Mendiang bapak saya adalah seorang hakim di pengadilan negeri. Sebagai hakim, tentu ada saja pihak-pihak yang sakit hati karena kasusnya kalah di persidangan, atau kolega atau orang lain yang merasa dirugikan karena hasil putusan sidang yang tidak menguntungkan mereka. Karena menyadari hal tersebut, bapak saya selalu menanam pohon pepaya berjejeran di halaman depan, dengan jarak sekitar 1 – 1.5 meter antara pohon-pohon tersebut. Saat itu saya bertanya, kenapa beliau menanam begitu banyak pohon pepaya yang kurang indah pas disebelah dalam pagar depan, kan mendingan nanem bunga atau pohon palem. Bapak saya menjawab, pohon pepaya itu untuk menahan santet sehingga tidak bisa masuk ke dalam rumah dan mengenai sasaran yang dituju. Saat itu saya belum menjadi Mommy Kepo, jadi gak bertanya lebih lanjut tentang penjelasan bapak saya tersebut.

Ternyata apa yang dikatakan bapak saya benar. Saat itu sekitar tahun 80-an, saya masih tinggal di kota Sampit, sebuah kota kabupaten di Kal-Teng. Beberapa kali kejadian, saat malam hari kami mendengar suara keras di halaman, seperti ada yang menabrak sesuatu. Dan pada keesokan paginya kami melihat bahwa salah satu pohon pepaya, ujungnya telah gosong menghitam seperti bekas terbakar. Bahkan pernah hingga patah dengan bekas yang sama. Padahal semalam cuaca tidak sedang hujan sehingga pastilah bukan karena sambaran petir. Itulah jejak santet yang gagal karena menghantam pohon pepaya.

Kejadian diatas tidak hanya saya alami saat kami tinggal di Kalimantan yang memang terkenal dengan ilmu-ilmu ghaib dan dunia mistisnya. Ketika kami pindah ke Jember, bapak saya melakukan hal yang sama pada rumah kami, yaitu menanam pohon-pohon pepaya di halaman depan. Ternyata santet itu setia banget bro, ngikutin kami sampai ke Jember segala 😀 Entahlah siapa yang mengirim dan darimana asalnya. Kata orang sih, ilmu santet dari Kalimantan sangat kuat hingga bisa menyeberangi lautan, hal yang sama tidak bisa dilakukan oleh santet dari Jawa.

Wallahu’alam bhissawab.

Horor di Kamar 820

Orang yang dilahirkan dengan bakat tertentu pastilah sangat beruntung, misalnya yang berbakat menyanyi, melukis, menulis dan lain-lain. Tapi kalo berbakat “melihat” makhluk halus? Nah, kalo bakat yang ini sih bisa bikin sakit jantung kalo gak kuat. Sialnya, saya termasuk yang berbakat dalam hal ini, hiks.

Sejak saya kecil ada beberapa pengalaman yang berhubungan dengan makhluk halus. Tapi kali ini saya akan ceritakan kisah horror yang saya alami saat disamperin makhluk itu saat menginap di suatu kamar hotel di Bandung (nama hotelnya gak usah disebut ya), tapi nomer kamarnya saya masih ingat, yaitu nomer 820. Here is the story….

Saat itu saya lagi ada business trip di Bandung, kebetulan kali ini saya perginya bareng sama bos. Namanya juga pergi sama bos, jadi jadualnya super ketat, seharian sibuk dengan kerjaan, telat makan sampai  masuk angin. Udah gak ada waktu buat sekedar keliling Bandung sebentar seperti kebiasaan saya. Jam sudah menunjukkan hampir setengah sembilan malam saat saya akhirnya masuk ke kamar hotel.

Karena saya masuk angin, saya masuk kamar hanya untuk meletakkan tas saja dan akan keluar lagi untuk mencari Antangin, koyo Cabe dan obat pusing. Pada saat meletakkan tas itu, tiba-tiba saya disergap perasaan aneh, entah apa penyebabnya. Kamar itu sih biasa aja, cukup standar layaknya hotel bintang empat, dan interiornya juga modern dan baru. Tapi saya merinding dan merasa di kamar itu ada “penghuni lain” dan saya tidak sendirian. Saya bukan penakut, dan sudah bertahun-tahun sering bepergian  untuk urusan kerja dan nginep di kamar hotel sendirian, bahkan hotel favorit saya di Jakarta itu bersebelahan dengan kuburan seperti yang pernah saya tulis disini, tapi baru sekali ini saya merinding dan merasa seperti ini. Berusaha mengabaikan perasaan itu, saya lalu keluar kamar untuk minta anter pak sopir ke apotik terdekat.

Begitu mendapatkan obat yang saya perlukan, saya masih sempat mampir ke Kartika untuk beli oleh-oleh, karena ada teman yang nitip beli brownies. Setelah itu langsung kembali ke hotel, dan jam sudah menunjukkan hampir setengah sepuluh malam.

Saya sudah lupa dengan kejadian tadi, mungkin karena sudah pusing berat dan sangat capek, pengennya buru-buru bersihin muka, minum obat dan segera tidur. Pada saat saya sedang menyikat gigi di kamar mandi, tiba-tiba perasaan itu datang lagi. Beberapa kali saya kaget dan menoleh ke belakang – ke arah kamar – karena merasa ada yang lewat berseliweran. Tapi kamar remang-remang dan tidak ada penampakan apa pun. Saya pikir mungkin karena saya aja yang kecapekan sehingga merasa gak enak begini. Selesai minum obat saya naik ke kasur dan menyalakan televisi. Besok saya harus check out jam lima pagi karena flight jam enam, jadi saya setel alarm di handphone jam empat pagi. Sumpah, pergi dengan bos itu nyebelin banget karena semua jadual dia yang nentukan dan gak bisa bebas mau pulang jam berapa, dan saya paling anti ambil flight pertama gini karena harus bangun subuh. Sarapan aja pasti gak bakal sempat.

Karena perasaan kuatir bakal tidur kebablasan dan gak bisa bangun in time, tidur saya benar-benar gak nyenyak. Hampir setiap jam saya terbangun dan ngecek hp saat itu sudah jam berapa. Lewat tengah malam saya terbangun dan merasa kamar cukup panas, what’s wrong with the aircon. Saya sampai turun dan ngeliat remote AC, dan berusaha menurunkan suhu ruangan biar lebih dingin. Baru kali ini saya tidur di kamar hotel tapi kepanasan begini (beberapa minggu kemudian saya baru tahu bahwa hawa panas itu adalah salah satu indikasi kehadiran makhluk astral di sekitar kita)

Sekitar jam 3.45 dini hari, saya terbangun untuk kesekian kalinya dan mengecek jam di hp. Ternyata ada SMS masuk dari maskapai penerbangan, yang menginformasikan bahwa penerbangan ditunda ke jam tujuh pagi. Setelah menimbang beberapa menit akhirnya saya SMS ke bos untuk menginformasikan hal tersebut, takutnya dia tidak menerima SMS yang sama dan mengira penerbangan sesuai jadual semula. Ternyata SMS saya tidak lama dibalas, dan dia setuju untuk mundurin jam check out sejam lebih lama. Asiik, lumayan saya bisa punya tambahan waktu tidur sejam lagi. Akhirnya saya setel lagi alarm ke jam lima, dan melanjutkan tidur yang sama sekali tidak nyenyak itu.

Tidak beberapa lama tertidur, tiba-tiba saya melihat pendar-pendar warna dari plafon diatas ranjang. Pendar warna tersebut lalu berubah menjadi sosok wanita berbaju putih yang melayang layang di plafon dan BRUKK!!! Sosok tersebut membaringkan dirinya pas disebelah kanan saya! Lamat-lamat terdengar suara dentingan musik instrumentalia bak latar belakang sebuah adegan film. Saya menoleh ke sosok tersebut, wajahnya tertutupi oleh rambut hitam sebahu, jadi tidak kelihatan raut wajahnya. Saya berusaha mengusirnya, “Pergi, pergi….saya harus bangun nih bentar lagi saya mau sholat Shubuh”. Tapi bukannya pergi, tuh makhluk malah mencengkeram tangan saya, terasa sakit kukunya menusuk di tangan, lagian ukuran tangan dia besar banget plus kuku yang panjang-panjang. Terjadilah dorong-mendorong antara saya dan sosok tersebut, sambil saya terus mengusir dia karena saya harus segera sholat. Setelah beberapa saat, mendadak sosok tersebut hilang, dan mata saya terbuka lebar. Dengan perasaan serem saya noleh ke kanan, ranjang kosong. Ketika memikirkan apakah itu tadi mimpi atau beneran, saya menatap ke layar TV yang menampilkan seorang pianis memainkan musik yang….persis sama dengan yang saya dengar saat diganggu makhluk tadi!!! Hadeeewww….kalo emang mimpi, kok ya musiknya terdengar jelas?? Dan mimpi kan hanya visual biasanya, gak pernah bisa merasakan rasa sakit yang nyata seperti saat tangan saya dicengkeram itu? Hiiiiiiiii………

Saya langsung loncat dari ranjang dan sholat Shubuh, lalu buru-buru mandi secepat yang saya bisa, sambil mata jelalatan takut kalau-kalau sosok tersebut nongol lagi. Syukurlah, tidak ada penampakan berikutnya. Langsung saya kemasi koper dan cabut keluar kamar, mendingan saya nungguin di lobby bawah deh, meskipun waktu masih sekitar jam 5 pagi. Di lobby saya berusaha menahan diri untuk tidak complain ke petugas resepsionis, karena ngasih saya kamar berdua sama mbak kunti sialan itu. Tapi enggak deh, pokoknya kalo ke hotel ini lagi saya gak mau dikasih kamar di lantai delapan, iyalah siapa tau di floor yang sama dia masih bisa main ke kamar-kamar sebelahnya…kalo beda lantai kan dia males kudu pake lift 😀

Beberapa bulan kemudian, iseng-iseng saya bertanya ke kakak saya yang bisa “melihat” begituan, saya hanya bertanya ada apa di kamar nomer 820 di hotel X di Bandung? Sengaja saya gak kasih any clue, pengen tau penglihatan dia bener apa gak. Lalu kakak saya nebak, mulai letak kamar mandi yang berada disebelah kiri kamar, adanya aura yang kuat dari atas plafon pas diatas ranjang, dan semua tebakan dia benar. Hingga akhirnya kakak saya mengatakan bahwa wanita itu korban pembunuhan beberapa tahun yang lalu, pelakunya adalah pacarnya, dan mayatnya diketemukan di kamar mandi.

KYAAAAAAAAA……….. O_o

sumpah gak berani pasang foto sereemm...

sumpah gak berani pasang foto sereemm…