Otak vs Hati : Mana yang Diikuti?

brain-and-heart-fight

Ilustrasi diatas agak menohok saya nih :/. Adalah otak yang berkata pada hati, “kamu gak pernah belajar kan…”. Sebetulnya saya termasuk orang yang lebih sering menggunakan otak (logika) daripada menuruti kata hati semata. Namun ada saat-saat dimana saya berkata what the hell to my brain, and just follow my heart. Kemudian pada akhirnya, hati saya jadi babak belur hahahaa…

Pertanyaan yang lalu muncul adalah, manakah yang harus diikuti, otak atau hati? Berikut saya akan mencoba mengulasnya secara singkat, karena ini juga nulisnya di sela-sela jam kerja euy…gak sempaattt…

Pria vs Wanita : Logika vs Perasaan

Pria dan wanita memang sejatinya diciptakan berbeda, dan dikatakan jika pria lebih memakai otak dibandingkan wanita yang menggunakan hati. Menurut Dr Louann Brizendine, dalam “Women’s and TeenGirls’ Mood and Hormone Clinic”, perbedaan tersebut pada dasarnya karena otak wanita terstruktur oleh dominasi hormon estrogen, sedangkan otak pria didominasi oleh hormon testosterone, sehingga ditemukan perbedaan respon dalam satu aktivitas yang sama. Menurut saya sih kebanyakan iya, tapi selalu ada perkecualian. Ada kok cowok yang mellow-mellow, lebay dan gak mikir banget gitu, bikin kesel aja, ngerepoti banget deh #loh jadi curcol hihihiii…

Jika dikaitkan dengan ilustrasi tadi, sungguh saya sangat bangga dengan diri saya yang – seringnya – menempatkan logika diatas hati. Buat saya segala sesuatu harus dihitung untung ruginya. Jika perlu saya akan membuat list up kelebihan dan kekurangan segala sesuatu dengan detail, sehingga keputusan yang saya ambil gak akan salah. Meminimalisir resiko, menyiapkan Plan B, Plan C dan seterusnya. Mencari alternative jalan, bahkan jika perlu sedikit tricky. Hati masukin ke kulkas dulu yaa, gak diundang di saat-saat meeting beginian 🙂 Begitulah, saya adalah perkecualian dalam hal ini. Saya pake otak.

Al Qolbu = Hati

Beberapa tahun yang lalu saya pernah re-post suatu artikel dengan judul “Al-Qolbu dalam Pandangan Sufisme”. Isinya adalah sebuah Hadits Qudsi yang berbunyi :

“Ketahuilah, di dalam jazad ada al-mudzghah, di dalam al-mudzghah ada Al-Qalbu, di dalam Al-Qalbu ada Fuad, di dalam Fuad ada Ruh, di dalam Ruh ada Sirr, di dalam Sirr ada Akfa, di dalam Akfa ada Aku (Inna fii al-jazad al-mudzghah, wa fii mudzghah al-qalb, wa fii al-qalb fuad, wa fii fuad ar-ruuh, wa fii ruuh sirr, wa fii sirr akfa, wa fii akfa ana)”

Tafsir dari Hadits  Bukhari & Muslim dari Nu’man bin Basyir menyatakan jika hati seseorang baik maka baiklah seluruh jasadnya, dan jika dia  jelek maka jeleklah seluruh jasadnya. Ketahuilah dia itu adalah Qalb. Pada saat itu saya belum memahami apa artinya, atau lebih tepatnya belum “merasakan”.  Hal ini karena saat itu saya belum belajar tentang tasawuf dan menjalani thoriqoh. Setelah perjalanan mencari saya sekian lama, baru saya memahami apa artinya. Ternyata bahwa hati itu lebih penting daripada otak. Ikutilah hatimu, maka Insya Allah dia akan membawamu ke jalan yang benar. Tapiiiii….hati disini adalah hati yang sudah bersih dari segala macam penyakit seperti sombong, riya’, ujub, khibir, dan lain-lain.  Ibarat sebuah gelas yang kotor, jika diisi air yang jernih pun maka akan tampak air itu kotor. Demikianlah hati manusia, cahaya illahi tidak akan bisa bersinar dari dalam hati yang masih penuh dengan penyakit dan kotoran. Padahal disebutkan dalam hadits qudsi diatas, sesungguhnya di dalam hati itulah adanya kehadiran Sang Maha Kuasa, yang akan menuntun jalan kita, menggerakkan hati dan menunjukkan mana yang benar dan salah. Bukan pada otak. Kebenaran yang ada dalam pikiran kita adalah kebenaran versi makhluk, seringkali malah pembenaran, bukan kebenaran. Otak kita mencari hal-hal yang menurut kita benar atas dasar keinginan kita, bukan hakikat kebenaran dari Allah swt. Oleh karena inilah, sekarang saya katakan bahwa saya lebih memakai hati saya daripada otak saya, bahkan jika pun apa yang dikatakan hati itu kadang bertentangan dengan logika.

Saya akan berikan suatu contoh berdasarkan apa yang saya alami belakangan ini. Rencananya akhir pekan ini saya ingin sowan ke guru mursyid saya di Pekalongan. Saya seharusnya sudah pesan tiket kereta api dan reservasi kamar hotel sejak minggu kemarin jika ingin aman. Namun hati saya mengatakan untuk menunggu hingga ada kepastian dari teman saya bahwa guru saya ada di tempat, sehingga perjalanan jauh ini gak sia-sia. Hingga H-3 baru teman saya mengabarkan jika beliau ada acara di kota lain. Lebih baik saya datang awal bulan Juni saja, katanya. Dan kalian tahu kenapa terjadi penundaan ini padahal saya sudah rencanakan jauh-jauh hari? Allah swt belum ridho, karena ternyata suami diam-diam gak setuju dengan rencana saya, dia juga pengen ngajak saya mudik untuk sowan ke mertua di desa. Hmmmm….

Begitulah kura-kura….

 

Jika Kau Bertanya Tentang Cinta…

….karena manusia diciptakan dengan satu hati, bukan dua. Tak bisa mengisi hati dengan makhluk dan pencipta-Nya. (Imam Al Ghazali)

Jika kau bertanya tentang hakikat Cinta kepada-Nya, tidak ada kata yang bisa mewakilinya karena cinta adalah “rasa”.

Jika kau bertanya tentang Cinta kepada-Nya, rasanya nyawa pun tidak lah cukup untuk diberikan kepada Sang Kekasih, bukanlah nyawa mu juga pemberian-Nya?

Jika Kau bertanya tentang Cinta kepada-Nya, ada gelora untuk memberi tanpa meminta karena itulah hakikat Cinta.

Jika kau bertanya tentang Cinta kepada-Nya, pernahkah air mata mu tumpah tak terbendung hanya dgn mengingat-Nya?

Dan kau pun menghapus air mata itu dari hadapan makhluk karena cukup kekasih saja yang boleh tahu.

Jika kau bertanya tentang Cinta kepada-Nya, malam hening bening nan sepi kau lewati bersama siapa?

Jika kau bertanya tentang Cinta kepada-Nya, Pernahkah kau senyum senyum sendiri ketika mengingat kenangan indah dengan-Nya?

Jika kau bertanya tentang Cinta kepada-Nya, rasa khawatir dan takut kehilangan Dia, pernahkah kau merasakan?

Jika kau bertanya tentang Cinta kepada-Nya, berbuat, berbuat dan berbuat lah untuk yang kau cintai, jangan pernah meminta apapun, cukup cinta saja untukmu…

Jika kau bertanya kepada ku tentang Cinta kepada-Nya, engkau tidak memerlukan jawaban, aku doakan suatu saat engkau akan ikut merasakannya… (Sufimuda)

Sufi Muda

30-CintaJika kau bertanya tentang hakikat Cinta kepada-Nya, tidak ada kata yang bisa mewakilinya karena cinta adalah “rasa”.

Jika kau bertanya tentang Cinta kepada-Nya, rasanya nyawa pun tidak lah cukup untuk diberikan kepada Sang Kekasih, bukanlah nyawa mu juga pemberian-Nya?

Jika Kau bertanya tentang Cinta kepada-Nya, ada gelora untuk memberi tanpa meminta karena itulah hakikat Cinta.

Jika kau bertanya tentang Cinta kepada-Nya, pernahkah air mata mu tumpah tak terbendung hanya dgn mengingat-Nya?

Dan kau pun menghapus air mata itu dari hadapan makhluk karena cukup kekasih saja yang boleh tahu.

View original post 90 more words

Dealova

Beberapa bulan yang lalu, teman saya si Tiko meminta saya untuk memutar lagu Dealova….eh, maksudnya membuat resensi lagu tersebut. Kata dia, lagu itu memiliki makna yang dalam banget. Terus terang, yang saya tau tentang lagu Dealova adalah lagu ini dinyanyikan oleh teman saya Nasyit – si J-Rock (Jomblo yang Suka Mikir Jorok) – saat reuni perak SMP awal tahun lalu, itu saja saya gak liat tapi hanya denger katanya teman-teman karena saat itu saya lagi beredar ke tempat lain. Dan mungkin sama dengan kebanyakan kaum awam, pikiran saya lagu ini adalah lagu tentang cinta mendayu-dayu yang dinyanyikan oleh Once. Pikir saya, kerjaan gampanglah nulis resensi lagu, sehari juga jadi, begitu jawab saya ke Tiko.

Keesokan harinya mulailah saya mencari lirik lagu Dealova, dan baru tau juga kalau penciptanya adalah Opick. Saya membaca lirik lagu ini berulang kali, berikut lirik lagunya :

aku ingin menjadi mimpi indah…
dalam tidurmu.
aku ingin menjadi sesuatu
yang mungkin bisa kau rindu…
karena langkahku rapuh
tanpa dirimu…
karena hati telah letih.

aku ingin menjadi sesuatu
yang selalu bisa kau sentuh.
aku ingin kau tahu
bahwa kuselalu memujamu.
tanpamu sepinya waktu
merantai hati…
bayangmu seakan-akan…

kau seperti nyanyian dalam hatiku,
yang memanggil rinduku padamu…
seperti udara yang kuhela,
kau selalu ada…

hanya dirimu,
yang bisa membuatku tenang.
tanpa dirimu,
aku merasa diam dan sepi.

Upsss, ternyata……

Lagu ini bukan tentang cinta antara pria wanita, meskipun bisa saja menjadi soundtrack sebuah film dengan judul yang sama, yang berkisah tentang cinta antara manusia. Saya yakin, Opick menciptakan lagu ini untuk cinta yang lebih agung, cinta hakiki, keriduan abadi dan fitrah seluruh umat manusia, yaitu cinta pada Rabb-nya, Allah Ta’ala. Cinta yang menuntun abdi kepada Sang Rabb yang selalu menunggu kedatangan abdi-Nya dengan cinta kasih dan anugrah tak terkira. Bagaimana bisa selama ini mengabaikan cinta-Nya dan sibuk mencinta yang lain?

Itulah mengapa saya tidak bisa menuliskan resensi lagu ini, bukan karena saya gak paham artinya apa. Justru karena saya merasakan rasa cinta dan rindu dan airmata itu, diatas segala rasa cinta yang pernah saya rasakan selama ini. I could not write about it, karena saya pasti menangis….Tak bisa saya gambarkan cinta ini, dan meskipun saya bisa menuliskannya kelak, tak akan semua orang bisa merasakan bagaimana cinta ini.

Maafkan ya Tiko, tapi kamu pasti juga merasakan apa yang saya rasakan. Thanks for being there.

DSC01348

Si J-Rock dan Pak Guru, Reuni Perak Fase389….ini cuma numpang iklan sodara, gak mecing ama judul tulisan blass 😀

 

Sang Maha Guru

Beberapa hari ini saya galau, sedih dan cemburu.

Sebagai orang yang berniat untuk belajar agama, sudah beberapa bulan ini saya mencari tempat pengajian. Saya nanya-nanya ke teman, nyari di internet mungkin ada informasi tentang pengajian di dekat rumah atau yang terjangkau lokasinya, maklumlah waktu saya sudah habis dengan berbagai shooting dan pemotretan di berbagai lokasi. Eits, bukan….saya bukan model, maksudnya saya motret diri sendiri di rumah, di mobil, di kantor dan dimana saja selpie sukesih berada, hahahaa….

Namun entah mengapa, segala usaha saya tidak berhasil. Sampai sekarang, status saya tetap menjadi Jamaah Googleliyah, dan satu-satunya pengajian yang pernah saya hadiri adalah pengajian PKK di kampung yang sudah lama bubar jalan karena ibu ketua pengajiannya sibuk jadi calon DPR :/

Lalu beberapa hari yang lalu, saya menemukan di facebook ada sebuah pengajian yang menurut saya sangat cocok buat saya. Saya kontak sekretarisnya, dan jawabannya tidak ada kelas pengajian tersebut di Surabaya, paling dekat di Jogja dan pusatnya ada di Bandung. Aduh, jika setiap minggu saya harus pergi ke Jogja selama 6-8 bulan, pertama, exit permit pasti gak dapet. Kedua, setiap Minggu saya ngaji baca Quran yang qolqolah aja gak hapal-hapal ini. Belum lagi jika ada kerjaan dan harus lembur di kantor. Intinya, ikut pengajian itu jadi mission impossible deh *sambil ngebayangin sang ustadz kayak Tom Cruise, oiii sediiihnyaaa……

Saya cemburu pada teman-teman saya yang bisa ikut pengajian. Sofie yang bisa ngaji di Kelapa Gading di sela pekerjaannya sebagai polisi PNS. Safrina yang tiap Sabtu ngaji dengan bermacam tema. Ifa yang tiap minggu ngaji di sela kesibukan sebagai ibu rt. Salaf yang suka sowan ke kyai-kyai di berbagai daerah. Tiko yang rajin pasang pp dengan para guru ngaji tasawufnya entah di café mana (lhoo, kok di café sih Tik?). Bahkan saya jeles dengan si Mgr, yang sibuk bisnis tapi masih intensive ngaji meski itu LDII, so what…pokoknya mereka semua bisa ngaji dan punya guru yang membimbing, tempat bertanya dan mendapatkan jawaban. Saya? Hanya seorang jamaah googleliyah, huhuhuuu….*nangis sambil narik sarunge mbah Google, srotttt….

Begitulah, hingga semalam saya tumpahkan kegalauan saya saat sholat malam. Tuhan, kenapa susah sekali jalanku mencari ilmu, ilmu yang akan membawaku ke gerbang-Mu? Sudah mendapatkan arah yang benar, tapi gak ada kendaraan yang membawa kesana. Mengapa mencari pengajian lebih susah dari cari gebetan? *Astaghfirullah, peace Tuhan, acungkan dua jari 😀

Dan pagi ini, saat menuju ke kantor, saya mendapatkan jawaban itu.

Mengapa saya harus sedih karena gak bisa ikut pengajian? Saya sudah ikut pengajian paling akbar, yaitu pengajian kehidupan.

Saya gak punya ustadz? Saya punya Sang Maha Guru, Dialah yang Maha Mengetahui segalanya, yang ilmu-Nya tak bisa dibandingkan dengan ustadz manapun.

Bagaimana saya mendapatkan pelajaran dan pengertian? Sang Maha Guru yang akan memberikan petunjuk-Nya, membimbing saya, menjawab semua pertanyaan saya, memberikan pemahaman terhadap semua pelajaran saya, menyiapkan materi-materinya apa saja yang harus saya baca dan pelajari.

Kapan saya bisa ngaji? 24 jam perhari, perminggu, pertahun, seumur hidup. Hingga nafas terakhir.

Tidakkah saya akan salah langkah dalam perjalanan saya? Banyak orang mencari Tuhan tapi mereka tersesat atau hanya berputar-putar di sebuah tempat, menyangka bahwa itu adalah tujuan akhir perjalanan. Apakah kamu meragukan Sang Maha Guru yang akan menjagamu selalu pada jalan yang benar?

Jika sungguh-sungguh Allah tujuannya, Allah sendirilah yang akan menjaga dari ketersesatan. Allah sendiri yang akan membimbingnya. Namun cara Allah menuntun adalah cara yang sangat misterius (JR Rumi)

Sesungguhnya ini adalah sebuah peringatan: Barangsiapa yang menghendaki, biarlah ia mengambil jalan menuju Rabb-nya. Dan tiadalah kamu akan berkehendak (menempuh jalan itu), kecuali jika itu dikehendaki oleh Allah. Sungguh, Allah itu Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
– Q.S. Al-Insaan [76]: 29-30

Alhamdulillah, akhirnya saya bisa ikhlas dan tetap semangat belajar 🙂

********************

MAN ‘Arafa Nafsahu, Faqad Arafa Rabbahu. “Siapa yang mengenal dirinya, niscaya akan mengenal Rabb-nya” (Kitab Misbah Syari’ah, Imam Ja’far as-Shadiq dari kakeknya Ali r.a dari Rasululloh SAW)

#Barakallahu fikum, buat Sofie yang telah menyampaikan hadits Nabi SAW.

Takut Sombong

Tidak masuk surga orang yang di dalam hati ada kesombongan meskipun hanya sebiji sawi (HR.Muslim).

Saya takut, sangat takut pada kesombongan.

Ada banyak hal yang bisa menyebabkan timbulnya kesombongan pada seseorang, antara lain kecantikan atau ketampanan, harta, ilmu pengetahuan bahkan amal ibadah. Dan separah-parahnya kesombongan adalah jika ada orang jelek tapi sombong, atau orang goblok tapi sombong, hahahaa…apalagi kalau udah komplikasi jelek, miskin, goblok dan sombong pula 😀

Bayangin ya, hanya kesombongan di dalam hati aja sudah gak bisa masuk surga, apalagi kesombongan yang diumbar kemana-mana. Jangan dianggap kesombongan dalam hati ini gak terdeteksi oleh Allah swt dan para malaikat-Nya, sehingga misalnya saat kita melihat orang yang cantik dan berbaju sexy di mall, dalam hati kita berkata, “Ah cantik siihh tapi paling masuk neraka karena gak pake hijab”. Ini salah satu bentuk kesombongan karena kita merasa lebih baik daripada si cewek sexy tadi. Padahal aslinya sirik, hahahaa…

Contoh nyata baru saya alami berkaitan dengan kesombongan ini. Bulan Ramadhan yang lalu saya berusaha untuk menjalankan ibadah dengan lebih baik daripada tahun-tahun sebelumnya. Saya mengaji, menyempatkan membaca Quran jika ada waktu, mengurangi gossip, banyak beramal sedekah dan lain-lain. Setelah lebaran saya mereview apa saja yang sudah saya lakukan, dan saya hanya membatin, lumayan tahun ini ibadah saya cukup banyak. Hanya membatin lho, perasaan ini tidak saya ucapkan ke siapa pun. Gak berapa lama, handphone baru saya yang baru dibeli tiga hari, hilang entah kemana. Masya Allah, betapa Tuhan sangat menyayangi saya dan langsung memberikan teguran, bahwa sedekah saya itu belum apa-apa, dan handphone itu harus diikhlaskan untuk sedekah buat yang mengambilnya. Karena saya menyadari kesombongan saya dan mohon ampun pada Allah, tidak sedikitpun rasa penyesalan atau sedih karena kehilangan handphone, gak tau lagi kalau ntar awal bulan tagihan kartu kredit datang dan saya harus membayar handphone yang sudah raib itu…hiks 😦 *belom lunas sodaaraaa….

Karena takut sombong, saya selalu menganggap diri saya bodoh. Masalahnya, saya ini penganut paham keponisme, sehingga pasrah menjadi orang bodoh dan gak mencari informasi dan kebenaran itu bukan gue bangeedde (pake qolqolah :D). Setiap kali saya merasa tidak tahu, maka saya akan tallabul ilmi wal googling, sampai capek dan merasa cukup paham baru saya hentikan surfing saya di rimba internet. Tapi yang namanya kepo, setiap saat ada saja yang membuat saya tergopoh-gopoh dan mantengin layar laptop seharian, bahkan berhari-hari. Begitulah, semakin saya belajar semakin bodohlah saya.

Seorang teman saya meyakini bahwa dia pasti masuk surga, karena dia sangat rajin mengaji, sholat dan melakukan ibadah-ibadah lainnya. Katanya, jika sampai gak masuk surga dia akan protes karena sudah bertobat sedemikian rupa dan beribadah sedemikian banyak. Astaga, emang siapa bisa protes ke Allah swt? Apa gak pernah dengar sabda Nabi saw, jikalau bukan karena jaminan dari Allah swt, bahkan Nabi pun tidak bisa masuk surga hanya karena amal ibadahnya. Saya hanya bisa mendoakan semoga teman saya itu beneran masuk surga, dan saya bersyukur pada Allah yang telah memberi saya teman yang seperti itu agar saya bisa memahami apa arti kesombongan dalam amal ibadah. Akhirnya saya pun menjadi lebih takut akan kesombongan lain, yaitu merasa lebih benar daripada teman saya tadi. Aduuhh, susyahh amat yaa supaya gak sombong ini…

Sebagai manusia, memang sangat susah agar tidak sombong, apalagi ada setan sekampung yang siap disekeliling kita, membisiki hati kita 24 jam penuh, udah pake shift-shift an gitu kerja mereka tanpa ada jeda istirahat sama sekali, busyeet hebat yaa 😀 Trus gimana dong biar gak sombong? Tips dari mommy kepo :

Keep on kepo and pray to God for His makrifatullah. Aamiinn YRA.

Jamaah Googleliyah

Siang ini saya terlibat percakapan dengan teman saya via WA. Dia teman saya sejak SMA dan setelah sekian lama berpisah, ketemu lagi eh ternyata dia sudah nggenah :D. Dari dialah saya mengenal yang namanya ngaji Al Hikam. Berikut sepenggal percakapan kami.

“Gus, sekarang ini lagi marak ya jamaah ini, jamaah anu….di Indonesia, yang organisasinya sudah bagus, kuat dan banyak anggotanya apa saja ya? Tentunya selain NU dan MU”

“Saat ini yang lagi jadi pembicaraan, sepengetahuanku MTA. Pusatnya di Solo. Dukungan dananya cukup besar, penataan organisasinya militan,” jawab teman saya.

“Apa MTA itu?” saya memang baru dengar, yang saya tau selama ini kan MTQ (Musabaqoh Tilawatil Quran).

“Majelis Tafsir Alquran. Sebetulnya selain itu cukup banyak. Tapi kurang begitu berkembang, meski lahir duluan”

“Ada yang jamaahnya besar, tapi kurang terorganisir,” tambah saya sambil melirik monitor laptop. “Aku termasuk di dalamnya, yaitu Jamaah Googleliyah” 😀

“Hahaha, iya itu lagi trend,” kata teman saya.

“Akibatnya banyak yang mendadak ustadz. Disisi lain juga ada yang mendadak kafir. Aku gak tau termasuk yang mana. Kayaknya menurut yang mendadak ustadz, aku termasuk yang mendadak kafir,” kata teman saya yang membuat saya meringis lebar. 😀 😀 😀

“Ya benar, dan kesimpulan akhirnya semua jadi mendadak dangdut,” timpal saya.

********

Sebagai seorang yang tertarik belajar tentang agama – saya tidak berani memakai istilah Ngaji, karena memang saya tidak ikut pengajian dimana pun – satu-satunya sarana yang saya punya adalah akses di Mbah Google. Teman sekantor saya pernah mengejek, malah bisa dibilang sering asal dia punya kesempatan, tentang kebiasaan saya tallabul ‘ilmi wal googling ini. Ya maklumlah karena dia sendiri secara intensive ngaji dan merupakan jamaah pengajian tertentu (gak perlu saya sebutkan namanya daripada dikira promosi). Sedangkan saya, satu-satunya pengajian yang pernah rajin saya ikuti adalah pengajian PKK di RT perumahan, yang akhirnya bubar jalan karena ketua pengajiannya sibuk nyalon jadi anggota DPR. Akhirnya ya beginilah nasib saya, terdampar menjadi jamaah Googleliyah 😀

Beberapa teman saya menyarankan agar saya mengikuti pengajian tertentu, tapi saya enggan dan memilih cara saya sendiri. Terus terang saya takut dengan yang namanya taqlid (mengikuti perkataan orang yang perkataannya bukan hujjah) apalagi taqlid buta yang sekarang banyak terjadi. Semata-mata ini karena kekurang pahaman saya terhadap Alquran dan Hadits, sehingga saya takut kebodohan saya itu akan memudahkan orang lain untuk “mencekoki” otak saya dengan hal-hal yang tidak saya mengerti dan menjadikannya suatu kebenaran mutlak. Dengan hanya penampilan sorban, sarung cingkrang, jubah, jenggot dan berbagai atribut lainnya seseorang bisa menyebut dirinya ustadz dan dihormati ribuan jamaahnya, tanpa pernah mempertanyakan kebenaran dan kedalaman ilmunya…ihh, sereem…iya kalau benar, kalau salah?

Dengan menjadi seorang Jamaah Googleliyah, saya membebaskan diri saya untuk membaca semua yang saya temukan di Google, dan hati nurani saya akan berkolaborasi dengan akal saya untuk memproses dan memahami apa yang telah saya baca tadi. Dengan begini saya juga tidak akan meyakini bahwa apa yang tertulis itu 100% benar atau 100% salah. Satu artikel bisa jadi membuat saya kepo untuk membuka artikel sejenis lainnya dan seterusnya, hingga pemahaman saya cukup (menurut saya) terhadap apa yang ingin saya ketahui. Tentu saja, yang namanya belajar idealnya dengan bimbingan guru, tetapi hingga saat itu datang dimana saya bisa menemukan seorang guru yang pas dengan kemauan saya, maka cara ini menurut saya cukup efektif. Bahkan lebih banyak sumber dan referensi tersebar di Google daripada hanya mendapatkannya dari seorang guru.

Ada sebuah artikel menarik berkaitan dengan kegiatan saya di Jamaah Googleliyah ini. Artikel ini bisa jadi sebagai supporting ilmiah tentang manusia dan agama. Berikut kutipan dari artikel tersebut :

Saya tidak melihat suatu ide apapun dalam Islam di mana manusia ditempatkan sebagai obyek moral yang pasif. Akal manusia merupakan partisipan yang aktif dalam menafsiran ide-ide ketuhanan yang terkandung dalam wahyu.”(Ulil Abshar-Abdalla, http://islamlib.com/gagasan/islam-liberal/tentang-makna-liberal-dalam-islam-liberal/)

Hmm, orang-orang begitu membaca nama Ulil Abshar tentunya langsung mencap “islam liberal” dan mengucapkan serentetan keburukannya. Saya, sebagai Jamaah Googleliyah bukan jamaah Islam Liberal, sekali lagi tidak menelan mentah-mentah apapun yang ditulis seorang Ulil, atau Cak Nun, atau ulama mana saja. Selalu ada subjektifitas dalam setiap tulisan. Disinilah kedewasaan berpikir kita harus terlibat dan ini salah satu menjadi ajang latihan emosi buat saya, karena memang banyak tulisan atau komen yang bisa langsung bikin spanning tinggi saat membaca caci maki di media sosial.

Artikel itu juga mengutip bahwa Nabi pernah bersabda, “ad dinu huwal ‘aql, la dina liman la ‘aqla lahu“, agama adalah akal, tidak ada agama bagi mereka yang tak mempunyai akal. Dapat dipahami dalam tulisan tersebut bahwa penulisnya menyindir para jamaah yang tidak menggunakan akalnya dan melulu taqlid buta, mengibaratkannya bak keledai yang mengangkut kitab, tanpa memahami isi kitab tersebut, dan keledai ini hanya mengikuti apa saja yang diperintahkan majikannya. Dan pada akhir tulisannya penulis menyatakan bahwa agama bukanlah diperuntukkan bagi keledai.

Buat saya yang baru belajar, memahami dan mengerti itu adalah bagian terberat dari perjalanan saya, khususnya jika saya bersinggungan langsung dengan penganut jamaah tertentu yang tidak sesuai dengan keyakinan saya. Tapi seperti apa yang dinasehatkan teman saya diatas, berdoa sajalah supaya mereka benar dan masuk surga, dan kita pun juga bisa masuk surganya Allah SWT. Amiinn…ya, begitu lebih baik.

*when the truth was revealed : July 29, 2015

Al-Qalbu dalam Pandangan Sufisme

Tulisan ini saya copas dari sebuah blog, dengan maksud sebagai self-reminder bahwa saya harus terus belajar dan belajar dalam hidup ini, walau jalan sangat panjang dan berliku namun atas kehendak-Nya tak ada yang mustahil….

Copas from : https://cafebelajar.wordpress.com/2011/08/13/al-qalbu-dalam-pandangan-sufisme/

Hadits  Bukhari & Muslim dari Nu’man bin Basyir, yang berbunyi:

‘’Ketahuilah, di dalam jasad ada mudzghah (segumpal daging)  yang jika dia baik maka baiklah seluruh jasadnya, dan jika dia  jelek maka jeleklah seluruh jasadnya. Ketahuilah dia   itu adalah Qalb.’’

Hadits ini dimaknai oleh orang-orang yang berpikir tekstual berkaitan dengan organ bersifat fisik yang disebut jantung. Kaum sufi, tidak menggunakan makna Al-Qalbu (hati) dengan menunjuk organ fisik yang terdapat di dalam dada manusia yang disebut jantung. Kaum sufi memberi makna Al-Qalbu sebagai substansi yang bukan materi yang berfungsi untuk mengenal segala sesuatu serta memiliki kemampuan untuk merefleksikan sesuatu sebagaimana cermin yang memantulkan gambar-gambar. Pemaknaan Al-Qalbu sebagai sesuatu yang bukan materi didasarkan pada Hadits: “Ketahuilah, di dalam jazad ada al-mudzghah, di dalam al-mudzghah ada Al-Qalbu, di dalam Al-Qalbu ada Fuad, di dalam Fuad ada Ruh, di dalam Ruh ada Sirr, di dalam Sirr ada Akfa, di dalam Akfa ada Aku (Inna fii al-jazad al-mudzghah, wa fii mudzghah al-qalb, wa fii al-qalb fuad, wa fii fuad ar-ruuh, wa fii ruuh sirr, wa fii sirr akfa, wa fii akfa ana).

Hati (Al-Qalbu) adalah sumber cahaya atau sumber dari ma’rifat, yang di dalamnya terdapat tujuh kota cahaya. Tujuh kota itu dikelilingi oleh Nuur Al-Awwal, di mana cahaya pertama itu dimuliakan di dalam pusat hati. Setiap kota dari tujuh kota yang terdapat di dalam hati, masing-masing memperoleh sinar dari Nuur al-Awwal tersebut. Setiap kota dari dari tujuh kota itu sama-sama memiliki pintu cahaya untuk membuka apa yang terdapat di dalam masing-masing kota. Tiap-tiap pintu dari tiap-tiap kota memiliki pagar yang menghadang cahaya. Setiap pintu kota memiliki kunci untuk membuka pintu kota. Tujuh kota di dalam hati itu adalah kota raja (Madinat Al-Mulk), yaitu Al-Qalbu.Al-Hakim At-Tirmidzi memaknai Al-Qalbu sebagai isim jami’ (sesuatu yang meliputi), yang di dalamnya terdapat maqamat al-bathin secara keseluruhan.

Hati (Al-Qalbu) ibarat lampu, di mana lampu itu akan baik jika cahayanya baik. Untuk memperbaiki lampu haruslah dengan memperbaiki cahayanya. Dalam konteks hati, cahaya yang dimaksud adalah cahaya taqwa dan cahaya yaqin. Jika hati manusia kosong dari nilai-nilai taqwa dan yakin, maka hati tersebut ibarat lampu yang padam. Itu sebabnya, setiap amal perbuatan dari jiwa yang jauh dari hati (Al-Qalbu), maka amal perbuatan itu tidak mendapat penilaian akhirat. Sebab yang mendapat sanksi dari amal perbuatan bukan pelakunya melainkan hati, begitu pula yang mendapatkan pahala dari amal perbuatan bukanlah pelakunya melainkan hatinya sebagaimana firman Allah :

“Allah akan memberikan balasan terhadap apa yang telah diperbuat oleh hati kalian (Q.S.Al-Baqarah: 225)”

Tidak ada yang melebihi kebaikan manusia yang hatinya bertaubat disinari cahaya tauhid, ma’rifat dan iman. Tidak ada sesuatu yang lebih terang, bersih, jernih, dan lapang yang dicipta-Nya selain hati yang disucikan Tuhan dari segala bentuk kekotoran. Lalu hati memiliki rasa malu di dalamnya terdapat Nuur al-Haqq. Itulah hati mu’min yang senantiasa dijaga Allah dan disinari dengan cahaya yang tanpa batas akhir. Itulah hati yang mampu menembus khazanah gaib-Nya karena kunci pintunya telah berada di sana. Demikianlah, Al-Qalbu itu sumber cahaya iman dan merupakan pangkal segala pemahaman. Firman Allah:  “Dulu kalian tidak mengenal apakah kitab itu, dan juga (tidak mengenal) apakah iman itu. Akan tetapi, Kami jadikan hati itu cahaya (Q.S.Asy-Syura:52).

Al-Qalbu adalah khazanah ilmu, baik ilmu hikmah maupun ilmu isyarat, setelah yang memperoleh anugerah memperoleh petunjuk dari Allah. Seseorang yang hatinya telah dibuka oleh Allah sehingga dapat menyaksikan sesuatu yang terdapat di balik hijab-Nya, maka ia seperti melihat sesuatu yang gaib dengan penglihatan matanya. Ibarat tempayan berisi air diletakkan di tengah tanah lapang yang memantulkan cahaya matahari, demikianlah hati yang dibersihkan Allah dari kotoran seibarat air jernih di dalam tempayan. Sementara kotoran benda-benda seperti daun kering, kertas, potongan kayu, perca, dan segala benda yang menutupi permukaan air akan menutupi pantulan cahaya matahari. Itulah hati yang tertutup dan buta sebagaimana firman-Nya: “Maka sesungguhnya mereka itu tidak buta (matanya), akan tetapi  hati merekalah yang buta, yang terdapat di dalam as-shadru (Q.S.Al-Hajj:46).

Lepas dari keinginan dan harapan kuat agar memiliki hati yang senantiasa bersih, di zaman yang serba materialistik ini, mampukah kita menjaga kebersihan hati kita dari pengaruh materi dalam bentuk komoditas-komoditas yang membanjir, hasrat kesenangan syahwat yang mengepung, dorongan ambisi berkuasa yang menghardik, dan desakan-desakan nafsu rendah duniawiah lain yang membuat  hijab kita tersingkap  dari-Nya? Meski sangat berat, kita harus berjuang keras dan berharap agar di tengah kepungan budaya materialistik ini jangan sampai kita diperbudak  materi duniawi apalagi menjadi pemuja dan penyembahnya!