Love Thy Neighbor

Judul diatas kalau diterjemahkan artinya “Cintailah Sesamamu”, meskipun buat Dinda lebih pas jika diartikan “Cintailah Tetanggamu”

Dinda mengenal Tio sejak lebih dari dua dekade yang lalu, ketika mereka bertetangga saat mereka masih imut-imut. Tidak lama, hanya beberapa tahun hingga saat lulus SMP, karena Tio melanjutkan SMA-nya ke kota lain. Tak banyak sebetulnya kisah antara mereka berdua, karena saat itu yang ada hanya dua remaja pemalu yang bahkan tak bisa mengucapkan sepatah kata apapun pun saat mereka tak sengaja bertemu di depan pagar atau berpapasan di jalan depan rumah.

Mereka punya tukang bakso langganan yang sama, Pak No namanya. Pak No tiap sore berhenti di depan rumah Dinda, dan biasanya langsung diserbu oleh kakak-kakak Dinda dan para tetangga, termasuk Tio dan sodara-sodaranya. Tapi jika Dinda melihat Tio, dia akan menahan diri tidak keluar dan hanya mengintip dari balik jendela kamarnya, maluuuuuu, karena sodara-sodara Tio terkadang iseng banget tereak-tereak, “Dindaaaa…..dicariin Tio, niiihhh”. Tambah ngumpet Dinda digodain begitu. Walhasil, setelah dilihatnya Tio dan sodara-sodaranya yang jahil itu selesai, baru Dinda memberanikan diri keluar rumah dan menghampiri Pak No.

“Baksonya udah habis, Neng….diborong ama Tio cs tadi, buanyak banget makannya”, Aaaaarrggghhhhh……gak kebagian baksoooo….kejaamnyaaa…..

Momen lain yang sering terjadi adalah saat Dinda harus masuk ke halaman rumah Tio. Bukan mau nyolong bunga, nggaak…tapi kucing Dinda masuk ke rumah sang tetangga. Biasanya Dinda masuk dikit lewat pintu pagar sambil manggil-manggil kucingnya.

“Puuuss…..Pusss”, Dinda celingukan nyari kucing kesayangannya.

“Suiitt, suiiitttt”, tiba-tiba ada suara suitan dari atas, ternyata Mas-nya Tio lagi ngeliatin dari balkon atas sambil cengar-cengir jelek.

“Pus-nya masuk ke dalam rumah, Neng, masuk ajaaa”

Dinda melangkahkan kaki menuju pintu rumah ketika deegggg, ada seraut wajah dengan senyum manis dibalik pintu. Tio tanpa kata-kata, hanya memandangnya sambil tersenyum, dan itu sudah bikin wajah Dinda memerah. Jika saat itu sudah ada istilah modus, bisa-bisa stempel dengan tulisan “Modus” dicapin ke wajah Dinda. Langsung deh dia kabur berlari pulang gak jadi njemput si Pus.

Begitulah interaksi mereka hanya sebatas pandangan jarak jauh, dan dari dibalik jendela atau pagar rumah masing-masing. Sodara-sodara Tio yang jahil sering nitip salam, dari Tio katanya, dan Dinda gak tau itu beneran atau bohongan. Bahkan mama Dinda pun sering bilang, senyumnya Tio manis banget, duuh gak tau apa maksud mama :/

Ketika Tio melanjutkan SMA nya ke kota lain, Dinda sedikit merasa kehilangan wajah manis yang biasa dia intip dari balik jendela. Hanya itu, selebihnya justru perasaan bebas karena bisa beredar di sekitar rumah tanpa takut-takut kepergok cowok yang cuma bisa senyum tapi pelit suara itu.

Sekian puluh tahun berlalu, hingga waktu mempertemukan mereka lagi via facebook. Kali ini Tio sudah bukan pemuda pemalu lagi, malah berani malu, karena sekarang dia mengakui dulu sering merhatikan Dinda. Bahkan Tio cerita kalau mendiang ibunya pernah menyuruh dia untuk apel malam minggu ke rumah Dinda, tapi Tio menjawab Dinda gak mau sama dia, sudah diapelin cowok lain. Duh Kanjeng Gusti, kenapaaa dulu gak sempat jadian, rutuk Dinda dalam hati mendengar pengakuan Tio itu. Kini mereka sudah memiliki keluarga dan hanya bisa mengenang masa kecil itu sebagai bagian hidup mereka yang lucu.

Tak banyak yang berubah dari penampilan Tio, dia tetap baik dan manis seperti dulu. Kini Dinda tau ternyata Tio orangnya lucu banget, selalu ngocol kalau mereka sempat bertukar message. Sungguh Dinda kaget, ketika beberapa saat kemudian seorang sodara Tio mengungkapkan berita jika Tio ditinggal sama istrinya yang kabur dan meninggalkan Tio bersama anak-anak mereka. Tak sekalipun Dinda berani menyinggung apalagi bertanya tentang hal ini ke Tio, dia sangat menjaga pertemanan mereka dan sama sekali menghindari topik yang sangat sensitif. Jika Tio tak pernah mengatakan apapun, biarlah itu menjadi rahasianya dan Dinda pura-pura gak tau aja. Kata sodaranya, itulah titik balik dalam hidup Tio, hingga sekarang dia jadi sangat alim dan religius, sangat sabar menghadapi cobaan hidupnya dan hanya berpasrah pada Tuhan sembari mengasuh anak-anaknya sendiri.

Dinda tak habis pikir bagaimana cinta bisa bertahan sekuat dan sesabar seperti yang dimiliki Tio. Tapi mungkin makna cinta buat Tio sudah lebih daripada cinta duniawi; cinta illahi yang lebih penting dan itu yang berusaha diraihnya. Tak sekalipun Tio menunjukkan kesedihannya saat ketemu Dinda, selalu bercanda dan bikin Dinda tersenyum. Tio mengajarkan pada Dinda, betapa luas arti cinta itu.

Apa yang sekarang Dinda rasakan mungkin terlalu sakral untuk disebutkan. Tidak, bukan cinta semacam itu, bukan cinta yang biasa, bahkan Dinda gak tau apakah sebutan yang pas untuk itu. Hanya doa yang selalu mereka ucapkan kepada masing-masing, semoga mereka selalu mengingat Tuhan dan bisa menemukan kebahagiaan sejati.

Hanya doa, dan itu sangat berarti melebihi kata apapun yang mereka hindari untuk terucapkan…..

Advertisements

One More Night

One more night, one more night

I’ve been trying, oh so long to let you know
Let you know how I feel
So if I stumble, if I fall, would you help me back
So I can make you see

Please give me one more night
Give me one more night
One more night
‘Cause I can’t wait forever

Give me just one more night
Ooh, just one more night
Oh, one more night
‘Cause I can’t wait forever

I’ve been sitting here so long, wasting time
Just staring at the phone
And I was wondering should I call you
Then I thought, maybe you’re not alone

Please give me one more night
Give me one more night
Oh, one more night
‘Cause I can’t wait forever

Just give me just one more night
one more night
Oh, one more night
‘Cause I can’t wait forever

Give me one more night
Give me just one more night
Ooh, one more night
‘Cause I can’t wait forever

Like a river to the sea
I will always be with you
And if you sail away
I will follow you

Give me one more night
Give me just one more night
Oh, one more night
Coz I can’t wait forever

I know there’ll never be a time
You’ll ever feel the same
And I know it’s only words

But if you change your mind
You know that I’ll be here
And maybe we both can learn

Give me just one more night
Give me just one more night
Ooh, one more night
‘Cause I can’t wait forever

Give me just one more night
Give me just one more night
Ooh, one more night
‘Cause I can’t wait forever


“One More Night – Phil Collins”

Tak bosan-bosannya wanita itu memutar ulang lagu tersebut dan hanyut dalam setiap nada dan liriknya. Ya, andai dia bisa mendapatkan satu malam saja, untuk mendapatkan jawaban atas sebuah pertanyaan yang telah dia ajukan, dan seribu pertanyaan lain yang tak pernah terucapkan.

Hanya sebuah pertanyaan, dia tak bisa menunggu selamanya atas jawaban itu. Entah sudah berapa puluh kali dia berpikir untuk mengirim pesan, atau bahkan menelpon, tapi selalu diurungkannya niat tersebut. Coz maybe he’s not alone.

Do I have the right to ask you how you feel?

Kadang wanita itu tidak yakin, feel so unsure to everything. Pun terhadap perasaannya sendiri, apakah itu yang dia cari?

So, give her just one more night.

Is it too much to ask, pikir wanita itu. Ratusan bahkan mungkin ribuan, saat mereka tak bisa miliki malam bersama. Apa susahnya hanya satu malam lagi?

One question, and just one more night that separate her from the answer.

Mother of Pearl

pearl

Wanita itu berjalan dengan kakinya yang telanjang menyusuri garis pantai. Dibiarkannya debur ombak yang lembut memecah di kakinya dan meninggalkan buih-buih putih. Sesekali dia berlari menjauh ketika ombak mengejarnya, dan tertawa lepas ketika dia kalah dan ombak berhasil meraih kakinya. Sore itu Pantai Sekotong cukup sepi, hanya ada beberapa pengunjung lain di sekitar pantai indah berpasir putih halus itu. Memang pantai ini tidak sepopuler Pantai Senggigi yang menjadi andalan di Pulau Lombok. Tapi keindahan Pantai Sekotong yang masih relatif perawan ini justru lebih memikat diantara pantai-pantai indah lainnya yang terdapat di Pulau Lombok. Itulah yang membawa wanita itu memutuskan untuk melewatkan sore ini di pantai tersebut.

Sudah tiga hari dia menghabiskan waktu berlibur di Pulau Lombok. Tahun ini banyak hal dalam hidupnya yang sangat menguras tenaga maupun emosi, sehingga dia merasa layak mendapatkan liburan indah seminggu di penghujung tahun, untuk menghilangkan semua rasa itu. Atau paling tidak, menghilangkannya sementara jika tidak bisa selamanya. Kemarin dia mengunjungi Sekarbela, kampung mutiara yang  terletak 4 kilometer dari Mataram. Di sentra industri pengrajin mutiara ini dia mendengar penjelasan dari seorang pengrajin tentang bagaimana terciptanya mutiara.

“Pada saat kerang kemasukan benda asing, dia tidak bisa mengeluarkannya. Kerang tersebut kesakitan sehingga untuk melindungi diri dia mengeluarkan semacam zat yang membungkus benda asing tersebut. Lama kelamaan benda asing tersebut memadat dan terbentuklah mutiara, yang memiliki keindahan warna seperti bagian dalam kerang – mother of pearl

Wanita itu menghentikan langkahnya lalu duduk berteduh di bawah bayang sebuah pohon kelapa yang tumbuh miring. Dilepaskannya pandangan jauh ke tengah laut dan dibiarkannya sebuah kenangan menyisip.

Pria itu memandangnya dengan binar mata yang dia tidak berani bertanya apa artinya. Tidak, lebih baik dia tidak tahu. Wanita itu menghela nafas panjang, lalu ditariknya lengan kekasihnya. Dibukanya jemari kekasihnya dan diletakkannya sebutir mutiara disana.

“Apa maksudnya ini?” kekasihnya melihat mutiara itu lalu menatap matanya dalam.

“Simpanlah mutiara laut ini, aku ingin kamu menyimpannya. Sebagai kenangan kisah kita”, wanita itu berkata lirih.

Hening.

Hanya tarikan nafas keduanya yang mengisi udara diantara mereka. Keheningan terpecah saat sang pria akhirnya mampu berkata.

“Jika ini maumu, baiklah. Kuharap kamu bahagia dengan keputusanmu”

……………..

Itulah akhir kenangan perpisahan wanita itu dengan kekasihnya. Dia merasa dirinya mirip dengan mother of pearl, yang berusaha menghilangkan sakit dengan menutupi benda asing itu, hingga kesakitan itu menjadi mutiara. Namun ada kalimat terakhir yang didengarnya dari pengrajin, dan kekasihnya tidak akan pernah tahu hal ini.

“Saat kerang dibuka dan menyerahkan mutiaranya, saat itulah seketika kerang akan mati”

Dan angin sepoi menyambut samar senja di pantai itu, membawa terbang rasa sakit namun meninggalkan kehampaan abadi.

Panggung Di Atas Atap – 3 : Berakhir Sudah

“Aku gak mau ruwet”

“Kalo memang dirasa jadi ruwet kita sudahin aja semua”

……….

Hati wanita itu mencelos, lebih karena terkejut daripada sakit. Dia pernah merasa lebih sakit.

Bukankah cinta itu telah lama usai?

Nyaris saja sebuah senyuman tersungging di bibirnya. Ah tidak tidak, sebuah senyuman, meskipun senyuman pahit, tentu akan menjadi adegan yang janggal pada episode ini.  Airmata bercucuran tentu lebih pas. Terlalu dramatis, pikirnya, mungkin beberapa tetes saja cukup.

Lalu wanita itu menangis. Entah itu tulus atau berbau tipuan. Tapi wanita itu memang biasa menipu, meski bisa dikatakan korban penipuannya lebih sering adalah dirinya sendiri. Toh telah lama yang namanya kepedihan tertikam di dadanya, jadi tikaman terakhir ini tidak terlalu berasa, katanya pada dirinya sendiri. Semoga dia tidak sedang berusaha menipu dirinya lagi.

Ingatannya melayang saat sebuah janji terucap, jadi inilah definisi selamanya itu. Itu pun setelah melalui masa pengabaian panjang yang membuatnya tersesat, tersaruk-saruk bertanya kemana arah melangkah. Dimana tangan yang berjanji akan membimbingnya di jalan ini? Wanita itu berpikir, mungkin dia yang berjalan terlalu cepat dan meninggalkannya dibelakang, terpuruk oleh kenyataan. Haruskah dia menunggu? Pertanyaan ini menjadi tak bermakna, saat sebuah pertanyaan lain mengusik, layakkah dia menunggu seseorang yang bahkan tidak memahami apa arti ucapannya sendiri?

Wanita itu menatap pucuk pepohonan yang menulisi angkasa. Dirasakannya angin menghembus rambutnya dan menampar dinding-dinding kelabu di atas atap itu. Hampir disalahkannya angin, yang membuat cintanya beterbangan. Ataukah panggung ini, yang tidak mampu menggenggam janji yang terucap saat itu? Wanita itu mencari dalam rangkuman kenangan, mungkin sebagai bentuk usahanya untuk melakukan penipuan, apa saja yang bisa mengalihkannya dari rasa sakit itu. Namun baik angin, langit, panggung dan bahkan dinding kelabu itu menolak untuk disalahkan. Mereka hanya saksi, dengan kompak mereka menjawab tuduhan konspirasi yang dilancarkan wanita itu.

Tersia-sia, merasa terkhianati oleh definisi selamanya yang ternyata tak sepenuhnya berarti waktu. Meski waktu tak pernah berkhianat disini. Pikirannya lah yang salah mendefinisikan kata. Dan hatinya yang terlalu lemah percaya.

Matahari mulai berjalan lirih ke ufuk barat.  Wanita itu setengah berharap, bahwa malam akan bersahabat padanya, menelan kehampaan dalam pekatnya, dan menyembunyikan luka dalam gelapnya. Meski dia tahu, luka itu akan masih berdarah dan menggurat dalam, masih ada malam besok untuk bersembunyi, dan malam besoknya lagi, lalu malam besoknya lagi.

Luka itu tak seberapa, karena dia tahu, kenanganlah yang akan membunuhnya.

*Ini adalah akhir dari sebuah trilogi, Panggung Di Atas Atap – 1 : Janji dan Panggung Di Atas Atap – 2 : Sendiri

Te Ka Pe :(

       Te Ka Pe 😦

Panggung Di Atas Atap – 2 : Sendiri

Sudah dua bulan berlalu sejak pertama kali wanita itu menjejakkan kaki di teras terbuka di atas bangunan itu. Tidak ada yang berubah dari teras terbuka tersebut, tak ada kursi-kursi, hanya ada dua pangung kosong seperti dulu. Dia berjalan perlahan menuju panggung terbesar, yang masih berkarpet hijau. Dilemparkannya tas kerjanya ke atas panggung itu, dan dia sendiri memilih untuk duduk di atas lantai, menekuk kakinya hingga kedua lututnya menyentuh dagunya.

Angin malam ini cukup dingin, tapi wanita itu memang suka hawa yang dingin. Diambilnya sebatang rokok putih dari tasnya, disulut dan dihisapnya, membiarkan asap rokok bergelung didepan wajahnya. Dia tahu mengapa dia kembali ke teras ini. Dua bulan yang lalu, saat dia di teras ini, dia merasakan cinta di hatinya. Dia bisa mengingat dengan jelas sepasang mata yang berbinar, juga karena cinta. Dia ingat janji yang terucap, demi sebuah cinta. Semua masih terekam dengan jelas di ingatannya. Tapi tidak di hatinya. Itulah alasan dia kembali ke teras ini.

Wanita itu mematikan rokoknya. Diedarkannya pandangan ke sekeliling, seolah berharap ada sesuatu di sekitarnya yang bisa melemparkannya ke malam itu, dua bulan yang lalu. Tapi tidak ada apa pun yang bisa membuat perasaannya kembali. Dipejamkannya matanya, berharap dengan begitu akan bisa lebih tajam untuk merasakan apa yang pernah dia rasakan saat pertama dia disana. Tapi dia tetap merasa sepi, tak ada yang lain, hanya sepi.

Lalu kemana perginya cinta itu?

True love is frozen in time, ah shit. Bagaimana orang bisa membuat kalimat bohong semacam itu, pikirnya dengan sengit. Tak bisa dihadirkannya cinta itu, bahkan di tempat dimana saat cinta itu pernah terasa sangat kuatnya. Di langit dilihatnya sebentuk awan hitam yang perlahan menutup sinar rembulan.

Wanita itu meraih S-Note dari dalam tasnya, dan menuliskan apa yang dirasakannya saat itu.

berjalan tak tahu kapan kan sampai

ke taman segala musim

sekali berteduh, bayangan makin menjauh

tersaruk-saruk tangan menggapai

sementara tanah makin lama makin merekah

 

hidup adalah penjelmaan awan

melaju dan hilang dalam tatapan

 

Wanita itu menghela nafas dalam. Sekali lagi ditatapnya panggung tempat dia duduk, lalu berjalan menuruni tangga tanpa menoleh lagi.

Panggung di Atas Atap – 1 : Janji

Jam sudah menunjuk ke angka duabelas malam saat wanita itu menapaki tangga ke atas atap. Ada sebuah teras terbuka di atas bangunan itu, biasanya terisi kursi-kursi untuk tempat duduk menikmati angin malam, tapi malam itu tak ada sebuah kursi pun di teras tersebut. Hanya ada dua panggung kosong, yang mungkin tujuannya untuk tempat live music.

Dia menuju ke panggung terbesar, lalu duduk diatasnya. Angin malam tidak berhembus keras, hawa pun sama sekali tidak dingin. Hanya suara kendaraan dari jalanan di bawah yang terdengar memecah kesunyian. Wanita itu duduk di pinggiran panggung berkarpet hijau.  Suasana nyaris gelap, hanya lampu-lampu dari seberang jalan yang membiaskan cahaya ke teras itu.

Lalu diraihnya handphone dan diputarnya sebuah lagu. Bukan, bukan lagunya Marcell. Kali ini lagu lama dari Rita Effendy…

“…tambatkan aku selalu dalam hatimu,

pegang janjiku yang erat

kemana pun jauhnya kau mengembara

aku mengikuti dekat di kalbu

menjaga dirimu…”

Wanita itu tersenyum, terngiang di telinganya sebuah suara yang memintanya untuk selalu percaya. Percaya akan cinta. Menjalani selamanya.

Selamanya?

Tidak ditanyakannya definisi selamanya itu. Karena binar mata di depannya nyaris membuat waktu berhenti berputar. Waktu tak pernah bisa diputar ulang, dan wanita itu tak ingin kembali ke masa lalu. Tapi dia ingin menghentikan waktu. Freeze the time, freeze the moment. Agar binar mata itu bisa selalu dilihatnya. Dimilikinya.

Tiba-tiba kesunyian menyergap, rupanya lagu dari hp-nya sudah selesai dari tadi. Diedarkannya tatapan ke sekeliling, tak ada siapa-siapa disana selain dirinya. Malam kian larut, tapi angin yang berhembus sama sekali tidak dingin.

Perlahan dia beranjak meninggalkan panggung di atas atap. Cuma satu yang ada di pikirannya.

Mencintai tak pernah seberat ini.